‘Nanti saja, kami sudah teramat lelah’
Peristiwa konvoi bendera bintang bulan yang ditanggapi TNI dengan kekerasan menjadi perhatian banyak pihak, termasuk relawan bencana dan korban banjir.
Seorang relawan yang tidak mau disebutkan namanya menyampaikan rasa khawatir di tengah situasi yang sempat “tidak kondusif”.
Mereka khawatir jika tidak menggunakan seragam sebagai relawan dari organisasi tertentu, misalnya, mereka akan terkena razia. Padahal niat mereka hanya ingin menyalurkan bantuan buat para korban banjir.
“Sebelum kondisi kondusif”, mereka tidak akan turun.
Selain relawan, korban banjir juga risau mendengar berita kericuhan itu.
“Saya takut, nanti Aceh terlihat seram di mata orang luar. Ini akan membuat semakin sedikit orang yang bersedia datang ke Aceh untuk membantu korban,” katanya Rina, korban banjir di Bireuen kepada wartawan Muhajir Juli yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Jumat (26/12).
Perempuan berusia 40 tahun itu telah hidup dalam perang Aceh ketika masih remaja. Dia lalu ikut menyaksikan tsunami, meski tak menjadi korban. Tapi kali ini dia menjadi korban langsung dari bencana alam.
“Susah sekali hidup tanpa kejelasan. Pemerintah lamban, kini timbul isu baru soal bentrokan itu. Saya melihat di media sosial, banyak komentar negatif untuk Aceh,” katanya.
Dia berharap “orang-orang besar”, fokus menanggulangi korban bencana alam, yang hingga saat ini masih terkatung-katung.
Korban banjir lainnya di Bireuen, Muhammad, berharap polemik politik tidak berlanjut. Jika masalah ini terus berlanjut, dia khawatir “korban bencana terlupakan”.
“Nanti saja dilanjutkan, setelah semua ini selesai. Kami yang jadi korban sudah teramat lelah. tak enak tidur di tenda. Ini sudah sebulan. Mohon semuanya bersabar, menahan diri,” kata pria berusia 42 tahun itu.


