MAKASSAR – Kondisi Masjid Kubah 99 Asmaul Husna belakangan cukup memprihatinkan. Saat hujan turun, air dari atap masjid menetes hingga ke dalam ruang utama.
Beberapa ember terlihat disusun di sejumlah titik untuk menampung air yang jatuh dari atap. Akibatnya, saf jemaah salat pun harus menyesuaikan dengan posisi ember-ember tersebut.
Situasi ini tentu menjadi perhatian banyak pihak. Apalagi masjid tersebut bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga telah menjadi ikon Sulawesi Selatan yang sering dikunjungi masyarakat maupun wisatawan.
Kebocoran Berasal dari Kubah-Kubah Kecil
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang (SDACKTR) Sulsel, Ilham Surono Arief, menjelaskan hasil inventarisasi sementara menunjukkan kebocoran berasal dari kubah-kubah kecil yang mengelilingi bangunan utama.
Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah saluran pembuangan air yang tersumbat.
Kotoran yang menumpuk membuat aliran air dari atap tidak lancar sehingga air akhirnya merembes ke dalam bangunan.
“Sehingga dibutuhkan kegiatan pembersihan yang rutin untuk mencegah adanya penyumbatan-penyumbatan pada pipa pembuangan,” ujar Ilham dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Kubah Utama Juga Bermasalah
Selain kubah kecil, masalah juga ditemukan pada kubah utama masjid. Beberapa bagian struktur kubah dilaporkan telah terlepas sehingga memicu kebocoran.
Ilham menjelaskan bahwa pada konstruksi awal kubah tidak dipasang lapisan membran penahan air.
Akibatnya, ketika ada bagian kubah yang rusak atau terlepas, air hujan dengan mudah masuk ke dalam bangunan.
“Memang pada pekerjaan awal seluruh kubah tidak diberikan membran. Jadi ketika ada bagian kubah yang rusak, itu langsung menjadi jalan air masuk ke dalam masjid,” jelasnya.
Anggaran Perbaikan Belum Cukup
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebenarnya sudah mengalokasikan anggaran sekitar Rp4,5 miliar pada 2025 untuk memperbaiki atap masjid.
Namun anggaran tersebut hanya cukup untuk penanganan kubah utama yang luasnya mencapai sekitar 1.300 meter persegi.
Sementara untuk membenahi seluruh kubah yang berjumlah 99, dibutuhkan anggaran jauh lebih besar.
Berdasarkan perhitungan teknis, total biaya yang diperlukan diperkirakan mencapai sekitar Rp22 miliar.
Karena keterbatasan anggaran, perbaikan akhirnya dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan kubah utama lebih dulu.
Akibatnya, kubah-kubah kecil belum tertangani secara maksimal sehingga kebocoran masih terjadi pada 2026 ini.
Proses Perbaikan Masih Berjalan
Ilham menjelaskan proses perbaikan atap masjid sebenarnya terdiri dari beberapa lapisan material.
Lapisan pertama menggunakan galvanum sebagai penutup dasar atap. Setelah itu ditambahkan aspal emulsi untuk menutup sambungan material.
Tahap selanjutnya adalah pemasangan membran sebagai lapisan pelindung agar air tidak masuk ke dalam struktur bangunan.
Sementara tahap akhir adalah finishing menggunakan bahan enamel yang memberi warna dan tampilan khas pada kubah.
Namun pengerjaan finishing tersebut mengalami keterlambatan karena produsen bahan enamel mengalami hambatan produksi akibat tingginya permintaan.
DPRD Minta Perbaikan Total
Ketua Komisi D DPRD Sulawesi Selatan, Kadir Halid, menilai kondisi masjid ini tidak bisa lagi ditangani secara parsial atau bertahap.
Menurutnya, perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh agar masalah kebocoran tidak terus berulang.
“Ini harus dievaluasi secara total. Tidak bisa lagi dikerja per anggaran sekian. Harus secara keseluruhan,” tegas Kadir.
Ia menilai pembenahan Masjid Kubah 99 perlu menjadi prioritas karena bangunan tersebut sudah menjadi salah satu ikon Sulawesi Selatan yang banyak dikunjungi masyarakat.


