Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa laki-laki kelas IV SD berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia, Kamis (29/1) siang.
Peristiwa ini terjadi tak jauh dari pondok sederhana tempat YBS tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun, di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu.
Polisi yang melakukan olah tempat kejadian menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga dibuat oleh YBS sebelum peristiwa itu terjadi. Surat tersebut ditujukan kepada sang ibu, ditulis menggunakan bahasa daerah Ngada, berisi pesan perpisahan singkat disertai permintaan agar ibunya tidak menangis.
Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E. Pissort, membenarkan temuan surat tersebut. Ia menyebut, hasil pencocokan tulisan dengan buku-buku sekolah korban menunjukkan kemiripan yang kuat.
Pagi Masih Terlihat Duduk, Siang Ditemukan Tak Bernyawa
Salah seorang warga, Kornelis Dopo (59), mengatakan sekitar pukul 11.00 WITA ia hendak mengikat kerbau di sekitar lokasi pondok. Dari kejauhan, ia melihat YBS dalam kondisi tidak bergerak. Kornelis lalu berteriak meminta bantuan warga dan melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib.
Saksi lain mengungkapkan, pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WITA, YBS masih terlihat duduk di depan pondok. Saat ditanya mengapa tidak berangkat sekolah, anak itu hanya menunduk dan tampak murung.
Permintaan Sederhana yang Tak Terpenuhi
Dari penuturan keluarga dan warga sekitar, kehidupan YBS memang jauh dari kata mudah. Ayah kandungnya meninggal dunia sebelum ia lahir. Sejak kecil, YBS tinggal bersama neneknya, sementara sang ibu dan ayah tirinya menetap di kampung sebelah bersama lima anak lainnya.
Sehari sebelum kejadian, YBS sempat bermalam di rumah ibunya. Ia meminta uang untuk membeli buku dan pena sekolah. Namun karena keterbatasan ekonomi, permintaan sederhana itu belum bisa dipenuhi. Keesokan paginya, YBS kembali ke pondok neneknya.
Dugaan Tekanan Ekonomi
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko menyebut dugaan awal peristiwa ini berkaitan dengan tekanan ekonomi dan kekecewaan yang dirasakan korban. Meski begitu, pihak kepolisian masih terus mendalami kasus ini.
Sebagai langkah lanjutan, Polda NTT menurunkan tim psikolog untuk memberikan pendampingan kepada keluarga dan lingkungan sekitar korban.
Respons Pemerintah Mengalir
Tragedi ini memantik reaksi luas dari pemerintah pusat hingga daerah.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pemerintah tengah memperkuat layanan kesehatan mental anak, termasuk penempatan psikolog klinis di Puskesmas.
Menko Pemberdayaan Manusia Abdul Muhaimin Iskandar menilai peristiwa ini sebagai alarm keras bagi negara agar lebih peka terhadap kebutuhan dasar masyarakat miskin.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan Kemensos telah menyalurkan bantuan darurat serta melakukan asesmen lanjutan, termasuk memastikan pendidikan kakak-kakak korban tetap berlanjut.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa bantuan pendidikan seperti Program Indonesia Pintar (PIP) perlu dibarengi pendampingan psikososial dan lingkungan yang lebih peduli.
Ketua DPR RI Puan Maharani menyebut tragedi ini sebagai peringatan serius bahwa kesehatan mental dan perlindungan anak harus benar-benar menjadi prioritas nasional.
Di tingkat daerah, Gubernur NTT Melki Laka Lena mengakui adanya kelemahan sistem perlindungan sosial, terutama akibat persoalan administrasi yang membuat keluarga rentan luput dari bantuan.
“Kita tidak boleh membiarkan warga kehilangan hak hanya karena persoalan data,” ujarnya.
Pemprov NTT pun berkomitmen membantu pembangunan rumah layak huni serta memperbaiki sistem deteksi dini keluarga miskin dan rentan.


