Kolam Renang Mattoanging di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, kini terbengkalai. Fasilitas yang dibangun untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) IV 1957 itu tak terurus setelah penertiban aset yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sulsel atas Yayasan Olahraga Sulawesi Selatan pada 15 Juli 2026.
Kondisi kolam renang memprihatinkan. Atap gerbang masuk sudah rapuh dan gentengnya terlepas. Pintu gerbang digembok sehingga orang tak bisa masuk. Cat tribune penonton yang semula berwarna putih, biru, kuning, dan hijau telah memudar, begitu pula cat biru menara loncat indah. Air kolam berwarna hijau pekat dan banyak sampah di dalamnya.
Seorang warga yang enggan disebut namanya mengungkapkan, kolam renang itu sempat ramai oleh anak-anak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Sepulang sekolah, mereka singgah berenang dengan memanjat pagar setinggi tiga meter di sisi utara. Akses masuk memang dikunci, tetapi tak ada yang mengawasi.
Khawatir anak-anak tenggelam karena berenang tanpa pengawasan, warga berinisiatif membuang bangkai anjing ke dalam kolam. Tujuannya agar anak-anak tak lagi datang berenang. “Tiga minggu lalu dibuang bangkai anjing ke kolam supaya anak-anak tak pergi berenang,” katanya saat ditemui sekitar Kompleks GOR Mattoanging, Kamis (1/10/2026).
Warga mengaku telah berulang kali mengimbau anak-anak agar tidak masuk berenang, tetapi tak digubris. Ia bersama warga lain bahkan mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari anak-anak tersebut. “Diingatkan, tapi tidak ada yang mendengar. Anak-anak patoa-toai (kurang ajar), makanya dikasih masuk bangkai anjing di kolam renang,” tuturnya.
Setelah bangkai anjing dibuang ke kolam, anak-anak tidak lagi datang berenang. Warga berharap Pemprov Sulsel menempatkan Satpol PP untuk mengawasi siapa pun yang masuk ke Kompleks GOR Mattoanging, termasuk kolam renang, agar hal-hal tak diinginkan tidak terjadi. “Semoga ada petugas bisa ditempatkan mengawasi, supaya tidak terjadi sesuatu hal tak diinginkan,” ucapnya.
Kolam renang bersejarah yang dibangun untuk PON IV 1957 itu kini hanya menyisakan bangunan rapuh dan air hijau pekat. Di baliknya, warga sekitar menanggung risiko sendiri demi mencegah anak-anak celaka di fasilitas olahraga yang seharusnya diawasi negara.


