Kehadiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Rakernas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai belum tentu berdampak signifikan terhadap peningkatan elektoral PSI di Sulawesi Selatan.
Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Luhur Prianto, menyebut ketokohan Jokowi belum cukup menjadi alat jual politik di Sulsel yang karakter pemilihnya cenderung cair dan pragmatis.
“Ketokohan Jokowi tidak otomatis menaikkan dukungan PSI di Sulsel. Diperlukan pergerakan politik lain, terutama figur lokal yang kuat,” kata Luhur, Minggu (1/2/2026).
Ia menilai kehadiran Rusdi Masse (RMS) menjadi faktor penting bagi PSI untuk menembus basis pemilih Sulsel, mengingat RMS memiliki rekam jejak politik lokal yang kuat.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Profetik Institute, Asratillah. Menurutnya, Jokowi saat ini lebih berfungsi sebagai simbol, bukan mesin elektoral.
“Di Sulsel, pemilih sering memisahkan antara suka presidennya dan memilih partainya,” ujarnya.
Asratillah menilai PSI hanya akan kuat jika mampu mengawinkan pengaruh Jokowi dengan kerja organisasi yang serius serta figur lokal yang dipercaya pemilih.
Sementara itu, Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus, melihat peluang PSI di Sulsel pada Pemilu 2029 terbuka, terutama dengan hadirnya RMS dan tokoh-tokoh lokal lainnya.
Pada penutupan Rakernas PSI, Jokowi menyatakan siap bekerja keras membantu PSI serta mendorong penguatan struktur partai hingga tingkat paling bawah.


