Kabar mengenai rencana kepindahan Rusdi Masse (RMS) ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai bukan sekadar isu perpindahan figur politik, melainkan menjadi ujian serius bagi kematangan organisasi Partai NasDem Sulawesi Selatan dalam menghadapi potensi transisi kepemimpinan.
Sebagai partai pemenang pemilu di Sulsel, NasDem dituntut memiliki skenario antisipatif, termasuk menyiapkan regenerasi kepemimpinan secara terukur. Ketergantungan berlebihan pada satu figur dinilai berisiko melemahkan fondasi organisasi.
Di internal NasDem Sulsel, isu hengkangnya RMS disebut bukan lagi sekadar spekulasi. Seorang pengurus NasDem Sulsel mengungkapkan bahwa kepindahan RMS tinggal menunggu momentum yang tepat.
“Sebenarnya tinggal menunggu waktu dan momentum. Ini sudah menjadi rahasia umum,” ujar sumber tersebut, Rabu (7/1/2026).
Ia menyebutkan bahwa pengumuman bergabungnya RMS ke PSI sejatinya telah direncanakan pada pelantikan pengurus DPP PSI, 26 September 2025 lalu, namun tertunda akibat dinamika internal.
Rakernas PSI Jadi Momentum Pengumuman
Sumber yang dekat dengan RMS memperkirakan Rapat Kerja Nasional PSI yang dijadwalkan akhir Januari 2026 berpotensi menjadi panggung deklarasi resmi kepindahan RMS. Apalagi, PSI tengah membentuk struktur kepengurusan di 24 kabupaten/kota.
“Besar kemungkinan diumumkan di Rakernas. Saya dengar RMS akan diberi posisi Wakil Ketua OKK DPP PSI,” ungkapnya.
Sebelumnya, Ketua PSI Sulsel Muammar Ferirae Gandi—putra sulung RMS—juga sempat menyebut akan ada kejutan pada Rakernas PSI. Sejumlah akun fanbase RMS di media sosial bahkan sempat memposting pesan perpisahan, meski kini telah dihapus.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal DPP NasDem, Jakfar Sidik, mengaku belum mengetahui secara pasti isu tersebut. Sejumlah kader NasDem Sulsel lainnya memilih tidak berkomentar.
Ketua NasDem Makassar, Andi Rachmatika Dewi, menilai isu kepindahan RMS merupakan dinamika yang wajar dalam politik. “NasDem adalah partai pemenang di Sulsel. Isu seperti ini pasti ada, tapi kami tetap bekerja dengan semangat politik untuk kemanusiaan,” ujarnya.
Pengamat: Jangan Panik, Jaga Soliditas
Pengamat politik dari Parameter Publik Indonesia, Ras MD, menilai RMS bukan hanya Ketua DPW NasDem Sulsel, melainkan simbol kekuatan partai di wilayah tersebut.
“Ketua partai berfungsi sebagai jangkar psikologis bagi kader. Wajar jika isu ini memicu kegelisahan, tetapi tidak boleh berkembang menjadi kepanikan,” kata Ras.
Menurutnya, langkah terpenting bagi NasDem Sulsel adalah menjaga soliditas internal, memperkuat komunikasi antarstruktur, dan memastikan roda organisasi tetap berjalan normal. Menyiapkan figur pengganti dinilai sah sepanjang dilakukan secara tertutup dan terukur sebagai bagian dari manajemen risiko.
“Yang keliru adalah jika proses transisi dilakukan secara prematur dan terbuka sehingga memicu friksi internal,” tegasnya.
Ras menambahkan, keberlangsungan figur kunci seperti Andi Rachmatika Dewi dan Syaharuddin Alrif akan menjadi faktor penentu stabilitas NasDem Sulsel ke depan.
Politik Sulsel Masuki Fase Cair
Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Luhur Priyatno, menilai posisi RMS di NasDem sejatinya masih kuat. Namun, isu kepindahan terus dimainkan oleh berbagai kepentingan eksternal dan internal.
Bergabungnya Muammar Ferirae Gandi ke PSI disebut turut memperkuat spekulasi tersebut. “Sumber daya dan jejaring politik RMS kini tidak sepenuhnya bekerja untuk NasDem,” ujar Luhur.
Ia menilai, isu kepindahan RMS bukan lagi hal mengejutkan. Justru, yang lebih menarik adalah siapa figur suksesor RMS jika benar-benar hengkang. Menurutnya, NasDem kemungkinan telah menjajaki sejumlah nama sebagai antisipasi.
Risiko dan Peluang bagi RMS dan NasDem
Direktur Profetif Institute, Asratillah, menilai jika kepindahan RMS benar terjadi, maka dampaknya signifikan bagi peta politik Sulsel. RMS dinilai memiliki jaringan kepala daerah, loyalis akar rumput, dan pengalaman panjang mengelola mesin politik.
Bagi RMS, bergabung ke PSI dapat dibaca sebagai reposisi politik dengan peluang peran lebih sentral. Namun, langkah tersebut juga berisiko karena harus membangun struktur dari titik yang lebih rendah dibanding NasDem yang telah mapan.
Sementara bagi NasDem, kepergian RMS akan menjadi pukulan simbolik dan organisatoris. Tantangan terbesar bukan sekadar mengganti jabatan ketua DPW, melainkan menghadirkan figur pemersatu yang memiliki daya kohesi dan kharisma politik.
“Ini pertaruhan apakah institusi partai lebih kuat dari figur. Jika gagal mengelola transisi, dominasi NasDem di Sulsel bisa terkikis perlahan,” ujar Asratillah.
Secara umum, isu kepindahan RMS menandai bahwa politik Sulsel tengah memasuki fase cair, di mana figur, jaringan, dan momentum memiliki bobot yang sama pentingnya dengan ideologi partai.


