Nasional

Dinamika Dukungan NU Sulsel di Muktamar ke-35

Dinamika Dukungan NU Sulsel di Muktamar ke-35
Dinamika Dukungan NU Sulsel di Muktamar ke-35

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, ternyata membawa warna tersendiri dari Sulawesi Selatan. Hingga kini, arah dukungan terhadap calon Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 masih belum mengerucut pada satu sosok.

Di tingkat PWNU maupun PCNU Sulsel, sejumlah nama masih jadi bahan obrolan. Bahkan, pilihan antar-cabang bisa berbeda cukup tajam ketika pemilihan berlangsung nanti. Wakil Ketua PWNU Sulsel, Prof Muammar Bakry, menyebut peta dukungan di daerahnya masih cair. “Pilihan itu sangat dinamis, bisa berubah sewaktu-waktu,” ujarnya, Selasa (25/8/2026).

Setidaknya ada lima figur yang paling sering disebut: KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH Muh Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), serta Menteri Agama RI Prof Nasaruddin Umar. Nama terakhir mendapat sorotan khusus karena berasal dari Sulsel, meski arah dukungan terhadapnya belum final.

Muammar menekankan, dinamika ini juga dipengaruhi mekanisme pemilihan yang belum jelas. Apakah sistemnya “one man one vote” atau kolektif, akan sangat menentukan strategi cabang dalam menentukan kandidat. Jika aturan memungkinkan lebih dari satu nama diajukan, dukungan bisa makin cair hingga detik-detik terakhir.

Di lapangan, sikap cabang memang beragam. PCNU Soppeng, misalnya, belum menetapkan dukungan resmi, meski mulai melirik figur Nasaruddin Umar. Ketua PCNU Soppeng, Ahmad Wardiman, menegaskan pihaknya masih menunggu perkembangan. “Belum ada keputusan final, kita lihat dulu situasi,” katanya. Ia menilai perbedaan pilihan antar-PCNU bukanlah masalah besar, melainkan dinamika biasa dalam Muktamar.

Pemerintah Kembangkan AI untuk Pantau Kekayaan Wajib Pajak Tajir

Berbeda dengan Soppeng, PCNU Makassar justru dipastikan tidak ikut menentukan suara. Ketua PCNU Makassar terpilih, Usman Sofyan, menyebut kepengurusan hasil konferensi belum dilantik resmi oleh PBNU, sehingga Makassar memilih abstain. “Masih ada problem internal, jadi untuk Muktamar kali ini Makassar tidak ikut,” jelasnya.

Kondisi ini membuat suara Sulsel di Muktamar ke-35 tidak solid dalam satu barisan. Ada cabang yang masih menimbang, ada yang condong ke figur tertentu, sementara Makassar tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Situasi ini juga mendapat perhatian akademisi sekaligus pengurus PWNU Sulsel, Prof Firdaus Muhammad. Ia mengingatkan agar NU tetap menjaga jarak dari kepentingan politik. “NU harus mandiri, jangan sampai dikendalikan kekuasaan,” tegasnya.

Meski begitu, mobilisasi warga NU Sulsel menuju Jombang tetap berlangsung. Ribuan peserta, baik resmi maupun penggembira, sudah bergerak ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas. Muktamar ke-35 NU dijadwalkan 27–31 Agustus 2026, dengan agenda utama pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.

Dengan peta dukungan yang masih cair, suara Sulsel diperkirakan jadi salah satu faktor menarik dalam perebutan kursi Ketua Umum PBNU. Perbedaan sikap antar-cabang justru memperlihatkan bahwa belum ada satu kekuatan dominan di daerah ini.

DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Buruh Hadir dan Bernyanyi Terima Kasih

Bantuan Polisi

Bantuan Polisi Polrestabes Makassar

Peristiwa






Pengaduan BID PROPAM

Pengaduan BID PROPAM Polda Sulsel

Teknologi






Politik