Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah memasuki minggu keempat, gelombang solidaritas justru datang dari wilayah yang jauh—Kashmir.
Warga di wilayah yang selama ini berada dalam bayang-bayang konflik itu ramai-ramai menggalang bantuan untuk rakyat Iran. Tak tanggung-tanggung, mereka menyumbangkan apa pun yang dimiliki—mulai dari perhiasan emas warisan keluarga, peralatan dapur, ternak, hingga uang tunai.
Aksi ini bukan sekadar bantuan kemanusiaan biasa, tetapi juga menjadi simbol solidaritas dari masyarakat yang merasa memiliki pengalaman serupa dalam menghadapi tekanan dan konflik berkepanjangan.
Donasi dari Harta yang Paling Berharga
Dilaporkan oleh Al Mayadeen, warga Kashmir memberikan kontribusi dengan penuh keikhlasan, meski hidup dalam keterbatasan.
Penggalangan dana ini bermula di wilayah Budgam dan Baramulla, lalu meluas ke berbagai daerah lain. Setelah perayaan Idul Fitri, relawan muda bergerak dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan bantuan.
Seorang pelajar Kashmir menggambarkan antusiasme warganya.
“Hampir setiap perempuan menyumbangkan perhiasannya. Ada yang memberikan uang, emas, perak, bahkan ternak dan kendaraan. Anak-anak pun ikut menyumbangkan isi celengan mereka,” ujarnya.
Bahkan, dalam beberapa kasus, ada warga yang rela menyumbangkan tanah mereka demi membantu rakyat Iran.
Hidup dalam Tekanan, Tetap Peduli Sesama
Ironisnya, aksi solidaritas ini datang dari masyarakat yang juga hidup di bawah tekanan berat. Wilayah Kashmir telah berada di bawah kendali militer India sejak 1947 dan dikenal sebagai salah satu kawasan dengan tingkat militerisasi tertinggi di dunia.
Ratusan ribu tentara berjaga di berbagai titik, membatasi pergerakan warga melalui pos pemeriksaan, jam malam, hingga pengawasan ketat dalam kehidupan sehari-hari.
Berbagai laporan dari kelompok hak asasi manusia juga mencatat adanya penahanan, penyiksaan, hingga pembunuhan di luar proses hukum terhadap warga yang dianggap berbeda pendapat.
Ketegangan Meningkat Seiring Konflik Iran
Situasi di Kashmir semakin memanas sejak konflik Iran memuncak. Warga melaporkan peningkatan kehadiran militer India, terutama menjelang kabar wafatnya Ali Khamenei yang beredar pada akhir Februari.
Ketika kabar tersebut menyebar, aparat keamanan langsung bersiaga. Pasukan tambahan dikerahkan, akses internet diperlambat, dan potensi kerusuhan diantisipasi.
Meski demikian, warga tetap turun ke jalan. Demonstrasi pecah di berbagai wilayah dengan seruan menentang Amerika Serikat dan Israel. Aparat merespons dengan tindakan represif, termasuk penggunaan gas air mata dan penangkapan massal.
Sejarah Panjang Konflik dan Penindasan
Gelombang protes ini disebut sebagai salah satu yang terbesar sejak 2019, saat pemerintah India mencabut Pasal 370 yang sebelumnya memberikan otonomi terbatas bagi Kashmir.
Kebijakan tersebut memicu pengetatan kontrol militer secara besar-besaran, pemadaman komunikasi, serta perubahan struktur kepemilikan lahan di wilayah tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembatasan terhadap kebebasan sipil juga semakin terasa. Bahkan, Masjid Jamia di Srinagar dilaporkan rutin ditutup saat momen penting seperti akhir Ramadhan.
Solidaritas sebagai Bentuk Perlawanan
Bagi warga Kashmir, bantuan untuk Iran bukan hanya soal empati, tetapi juga bentuk pernyataan politik.
Mereka melihat adanya keterkaitan antara konflik yang dialami Iran dengan situasi yang mereka hadapi sendiri.
“Sebagai bangsa yang telah lama mengalami penindasan, kami memahami penderitaan siapa pun yang menghadapi ketidakadilan,” ujar seorang mahasiswa Kashmir.
Ia juga menyinggung kedekatan historis dan budaya antara Kashmir dan Iran, yang kerap disebut sebagai “Iran-e-Sagheer” atau Iran Kecil.
Jejak Hubungan dan Kepentingan Global
Warga Kashmir juga menyoroti hubungan erat antara India dan Israel dalam bidang militer. India diketahui menjadi salah satu pembeli terbesar peralatan militer dari Israel, termasuk drone dan teknologi pengawasan.
Hal ini, menurut mereka, turut memperkuat kontrol keamanan di Kashmir.
Kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi, ke Israel beberapa waktu lalu juga dinilai mempertegas aliansi strategis tersebut.
Pesan dari Kashmir untuk Iran
Di tengah segala keterbatasan, warga Kashmir ingin menyampaikan satu pesan sederhana namun kuat kepada rakyat Iran: mereka tidak sendirian.
“Kami ingin rakyat Iran tahu bahwa kami selalu bersama mereka, dan akan terus melakukan apa pun yang kami bisa untuk mendukung,” ujar seorang relawan yang terlibat dalam penggalangan bantuan.
Solidaritas ini menjadi bukti bahwa bahkan dari wilayah yang diliputi konflik, rasa kemanusiaan tetap bisa tumbuh dan melintasi batas negara.


