Presiden Prabowo Subianto menyentil ancaman yang kerap luput dari perhatian: serangan non-fisik yang menggerogoti ekonomi bangsa. Dalam pidatonya di Upacara Peringatan HUT ke-81 TNI, ia menegaskan kedaulatan ekonomi sama pentingnya dengan kedaulatan wilayah.
Prabowo menyoroti serangan siber, penyebaran berita bohong, hingga penyelundupan komoditas ke luar negeri. Menurutnya, praktik penyelundupan bukan sekadar pelanggaran hukum biasa. Ia secara langsung menggerus pendapatan negara dan merusak struktur neraca perdagangan nasional. “Ekonomi kita diganggu, kekayaan dicuri,” begitu pesan yang ia sampaikan.
Di hadapan jajaran TNI, Prabowo menggambarkan betapa beratnya tugas menjaga wilayah kepulauan yang luas. Ia membandingkan Indonesia dengan Eropa yang terdiri dari lebih dari 30 negara, masing-masing dengan kekuatan militernya sendiri. Sementara Indonesia, dengan wilayah yang jauh lebih luas, memercayakan pertahanan pada satu komando terintegrasi di bawah TNI. Karena itu, penguatan pertahanan dan pengawasan ketat terhadap objek vital strategis menjadi harga mati.
Peringatan Prabowo ini menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap Indonesia tidak selalu datang dalam bentuk invasi militer. Serangan siber, hoaks, dan penyelundupan bisa sama berbahayanya. Kedaulatan ekonomi, tegasnya, harus dijaga dengan kewaspadaan dan pertahanan yang terintegrasi.
Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp106,94 Triliun, Risiko Kredit Macet Mengintai
Utang masyarakat melalui pinjaman daring atau pinjol terus membengkak. Otoritas Jasa Keuangan mencatat outstanding pembiayaan pinjol menembus Rp106,94 triliun pada Agustus 2026, melonjak 22,07 persen secara tahunan.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, dan Lembaga Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengungkapkan data itu dalam konferensi pers RDKB secara daring, Senin (5/10). “Pada industri pinjaman daring atau pindar, outstanding pembiayaan pada Agustus 2026 tumbuh 22,07 persen year on year dengan nominal sebesar Rp106,94 triliun,” kata Agusman.
Pertumbuhan itu tidak datang tanpa risiko. Tingkat Wanprestasi 90 Hari atau TWP90 berada di level 4,73 persen. Angka ini menunjukkan sebagian pembiayaan masih berpotensi gagal bayar.
Di satu sisi, pinjol menjadi alternatif pembiayaan yang mudah diakses masyarakat. Di sisi lain, pertumbuhan outstanding yang pesat dan TWP90 yang masih di atas 4 persen menjadi sinyal peringatan. OJK pun diminta memastikan ekspansi industri ini tidak mengorbankan kualitas kredit dan tidak menjerat masyarakat dalam jeratan utang yang semakin dalam.


