Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan kian mengkhawatirkan. Di tengah klaim stok aman, kondisi di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.
Antrean Mengular hingga 200 Meter
Pemandangan dramatis terlihat di SPBU Paleteang, Kabupaten Pinrang, Senin (30/3/2026) siang.
Antrean kendaraan tak hanya memenuhi area pengisian, tetapi meluber hingga sekitar 200 meter ke badan jalan poros Pinrang–Enrekang.
Di bawah terik matahari, pengendara motor terpaksa meninggalkan kendaraannya demi mencari tempat berteduh. Sebagian lainnya memilih menyerah dan putar balik karena tak sanggup menunggu.
Kemacetan Parah di Makassar
Situasi serupa juga terjadi di Kota Makassar. Antrean BBM memicu kemacetan di sejumlah titik vital seperti Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan Bawakaraeng.
Kendaraan logistik hingga mobil pribadi tampak berdesakan, terutama di jalur pengisian solar dan pertalite.
“Saya sudah putar-putar. Dari SPBU Galangan Kapal kosong, dekat Masjid Raya juga tidak ada. Baru di sini dapat, itu pun harus antre panjang,” keluh Zaki (24), sopir ekspedisi.
Pertamina: Dampak Arus Balik dan Panic Buying
Manajemen Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menyebut kondisi ini dipicu lonjakan permintaan selama arus balik.
Area Manager Communication, Relation, & CSR, Lilik Hardiyanto, memastikan pasokan BBM tetap tersedia.
“Peningkatan aktivitas masyarakat di masa arus balik berdampak pada kecepatan pengisian di SPBU. Namun, kami pastikan pasokan tetap disalurkan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Senior Supervisor Commrel, Okky Aditya Wibowo, menilai kepanikan masyarakat turut memperburuk situasi.
“Stok masih aman, penyaluran rutin. Yang terjadi adalah panic buying. Kami imbau masyarakat membeli sesuai kebutuhan,” tegasnya.
Isu Kenaikan BBM Perkeruh Situasi
Di balik lonjakan permintaan, beredar pula isu kenaikan harga BBM per 1 April 2026 yang memicu kekhawatiran masyarakat.
Kondisi ini membuat banyak warga memilih mengisi penuh tangki, bahkan menyetok BBM sebagai langkah antisipasi.
Meski begitu, Pertamina menegaskan belum ada kebijakan resmi dari pemerintah terkait kenaikan harga.
“Penetapan harga mengacu pada kebijakan pusat. Kami hanya menjalankan penugasan,” kata Lilik.
Distribusi dan Kendala Operasional Jadi Sorotan
Di lapangan, antrean panjang juga dipicu faktor teknis. Di Pinrang misalnya, keterlambatan bongkar muat mobil tangki menyebabkan kekosongan sementara di tangki SPBU.
Di Makassar, kepadatan diperparah oleh kembalinya aktivitas perkantoran setelah libur panjang.
“Ini hari pertama operasional normal, sehingga terjadi penumpukan di jam sibuk,” ujar Sales Area Manager Sulselbar, Rainier Axel Siegfried Gultom.
Pengawasan Diperketat, Daerah Merah Dipantau
Pertamina mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk mengawasi distribusi BBM.
Pemantauan dilakukan intensif selama 24 jam di sejumlah daerah yang masuk kategori rawan, seperti Enrekang, Sinjai, Bone, Sidrap, Pinrang, hingga Barru.
Pengamat: Ada Ketidaksinkronan Data
Pengamat ekonomi Universitas Hasanuddin, Muhammad Syarkawi Rauf, menilai terjadi ketidaksesuaian antara klaim stok aman dengan kondisi di lapangan.
“Kalau stok cukup, seharusnya tidak terjadi antrean panjang. Ini menunjukkan ada masalah, kemungkinan di distribusi,” ujarnya.
Menurutnya, kepanikan masyarakat juga dipicu oleh arus informasi, termasuk dari media sosial dan kondisi global.
Solusi: WFA hingga Pembatasan BBM
Syarkawi mengusulkan sejumlah langkah strategis untuk mengatasi situasi tersebut, mulai dari pembatasan penggunaan kendaraan pribadi hingga kebijakan work from anywhere (WFA).
Ia juga mencontohkan kebijakan di negara lain seperti Australia yang menggratiskan transportasi umum untuk menekan konsumsi BBM.
Selain itu, opsi penjatahan BBM dinilai dapat menjadi solusi jangka pendek.
Transparansi Jadi Kunci
Syarkawi menegaskan, transparansi pemerintah menjadi faktor utama untuk meredam kepanikan publik.
“Kalau narasinya stok cukup, tapi fakta di lapangan antre, itu bertentangan. Pemerintah harus jujur menyampaikan kondisi sebenarnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, perbaikan distribusi harus segera dilakukan agar pasokan merata dan antrean panjang bisa diurai.


