Kabar baik bagi pengguna kendaraan berbahan bakar Pertamax. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax berpotensi mengalami penurunan seiring tren melemahnya harga minyak mentah dunia.
Purbaya mengatakan, penurunan harga minyak global dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian Indonesia, termasuk menekan biaya energi masyarakat dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun, sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan makin kuat,” ujar Purbaya dalam rapat bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta, Senin.
Menurutnya, salah satu faktor yang memberikan optimisme terhadap penurunan harga minyak dunia adalah munculnya peluang perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Jika situasi geopolitik tersebut membaik, maka tekanan terhadap pasar energi global diperkirakan ikut mereda.
Purbaya menjelaskan, stabilitas global yang lebih baik juga berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah, membuat biaya pendanaan menjadi lebih kompetitif, serta meningkatkan minat investasi.
“Artinya momentum pertumbuhan harusnya membaik ke depan. Karena kita tahu, salah satu tekanan yang kita alami adalah ketika harga minyak dunia naik, kita terpaksa menaikkan sebagian harga BBM yang tidak bersubsidi, walaupun yang bersubsidi kita pertahankan,” katanya.
Ia mengakui kenaikan harga BBM non-subsidi sebelumnya sempat memberikan tekanan bagi masyarakat. Namun berdasarkan sejumlah indikator ekonomi terbaru, Indonesia dinilai telah melewati fase tekanan tersebut dan kini memasuki tahap penguatan fondasi ekonomi.
“Kalau dari data yang kita lihat sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan, tinggal memperbaiki fondasi yang sudah ada supaya dengan perbaikan yang ada, kita bisa tumbuh lebih optimal,” jelas Purbaya.
Pemerintah berharap kondisi global yang lebih kondusif pada semester II 2026 dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin positif.
Sebelumnya, pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen. Selain itu, tingkat inflasi tetap terkendali, neraca perdagangan mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026, cadangan devisa berada pada level yang aman, penyaluran kredit tumbuh dua digit, serta sektor manufaktur kembali berada dalam zona ekspansif.
Berbagai indikator tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga meskipun dunia masih menghadapi berbagai tantangan dan ketidakpastian.


