Institut Bisnis dan Keuangan (IBK) Nitro bersama Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebagai langkah awal persiapan pelaksanaan International Conference on NITRO (ICON) 2026. Kegiatan ini berlangsung secara daring pada Senin, 26 Januari 2026, dan diikuti pimpinan serta perwakilan dari kedua institusi.
FGD tersebut menjadi momentum penting dalam membangun sinergi strategis antarperguruan tinggi, khususnya dalam upaya mengangkat kearifan lokal ke tingkat global melalui riset dan publikasi ilmiah yang berkualitas.
Kolaborasi Akademik Berbasis Riset dan Jejaring Internasional
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa kerja sama ini tidak berhenti pada agenda seremonial semata. Menurutnya, ICON 2026 dirancang sebagai ruang strategis untuk memperkuat jejaring akademik nasional sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas.
Ia menilai konferensi internasional menjadi medium efektif untuk mempertemukan gagasan, riset, dan perspektif lintas negara, khususnya yang berangkat dari konteks dan kearifan lokal Indonesia.
Komitmen Menjaga Standar Internasional
Sementara itu, Wakil Rektor IBK Nitro, Megawaty, menyampaikan bahwa FGD ini menjadi fondasi awal dalam menyatukan visi besar kedua institusi. Ia menekankan komitmen IBK Nitro untuk mengawal seluruh tahapan persiapan ICON 2026 agar pelaksanaannya memenuhi standar konferensi internasional.
“Kami ingin memastikan bahwa ICON 2026 tidak hanya berjalan sukses secara teknis, tetapi juga memiliki kualitas akademik yang diakui secara global,” ujarnya.
ICON 2026 Dijadwalkan April
ICON 2026 direncanakan menjadi agenda akademik bersama yang akan digelar pada April 2026. Melalui FGD ini, IBK Nitro dan IAI Rawa Aopa menegaskan komitmen bersama untuk terus berkoordinasi secara intensif, mulai dari penyusunan konsep, tema, hingga aspek teknis pelaksanaan.
Kedua institusi berharap konferensi ini dapat menjadi wadah strategis bagi akademisi, peneliti, dan praktisi untuk mempresentasikan riset-riset unggulan sekaligus memperkuat posisi kearifan lokal dalam diskursus global.


