Opini

Mengukur Ancaman dengan “Jarak”, Cara Baru Membaca Psikologi Anak di Wilayah Banjir

Mengukur Ancaman dengan “Jarak”, Cara Baru Membaca Psikologi Anak di Wilayah Banjir
Mengukur Ancaman dengan “Jarak”, Cara Baru Membaca Psikologi Anak di Wilayah Banjir

Kota Makassar, 21 November 2025. Ancaman bencana hidrometeorologi yang meningkat sepanjang 2025 mendorong lahirnya riset yang mencoba melihat banjir dari sudut pandang yang jarang disorot “anak-anak”. Sejumlah peneliti dari Universitas Islam Makassar dan Universitas Negeri Malang mengembangkan pendekatan visual bernama PRISM–FD untuk memetakan persepsi risiko dan kondisi psikologis anak usia sekolah dasar di dua wilayah yang sama-sama rentan banjir, yakni Desa Sitiarjo, Kabupaten Malang, dan Kota Makassar.

Alih-alih mengandalkan kuesioner teks yang kerap sulit dipahami anak, PRISM–FD mengajak siswa “bercerita” melalui visual. Ketua tim peneliti, Dr. Nur Syam, S.Pd., M.Pd. mengatakan metode ini dirancang agar pengalaman anak tidak hilang di balik bahasa orang dewasa.

“Dalam banyak penanganan bencana, kita sering fokus pada prosedur, jalur evakuasi, dan infrastruktur. Itu penting. Tapi pengalaman psikologis anak sering tidak terbaca. Mereka cemas, takut, tapi tidak selalu mampu mengungkapkannya lewat kata-kata,” kata Dr. Nur Syam saat ditemui.

Riset ini digarap bersama Nurhayati Selvi, S.Pd., M.Pd., Listyo Yudha Irawan, S.Pd., M.Pd., M.Sc., Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd dan Dr. Alfyananda Kurnia Putra. Menurut Dr. Alfyananda Kurnia Putra, pendekatan visual bukan sekadar “mempermudah”, melainkan upaya menempatkan anak sebagai subjek yang pengalaman dan perasaannya perlu dibaca secara serius.

“Jika instrumennya tidak ramah anak, maka data yang kita dapat juga berisiko bias. Metode visual membantu anak mengekspresikan persepsi ancaman secara lebih natural, lalu kami olah menjadi informasi yang bisa dipakai sekolah dan pemerintah,” ujarnya.

Menkeu Baru dan Misi Menyelamatkan Persepsi Prabowo

Secara sederhana, PRISM–FD bekerja dengan prinsip jarak. Pada lembar instrumen terdapat penanda “Diri” dan “Banjir”. Anak-anak diminta menempatkan simbol “X” untuk menunjukkan seberapa dekat ancaman banjir yang mereka rasakan terhadap dirinya. Tim peneliti kemudian mengukur jarak fisik antara “Diri” dan “Banjir” sebagai data kuantitatif.

“Bagi anak, ini lebih mudah daripada diminta menulis panjang. Tetapi dari jarak penempatan simbol itu, kami memperoleh data yang rapi, bisa diolah, dan bisa dibandingkan,” kata Dr. Alfyananda Kurnia Putra. Ia menilai kekuatan PRISM–FD ada pada kombinasi “ramah anak” namun tetap terukur.

Selama proses pengumpulan data, tim juga mengamati cara anak merespons instrumen tersebut. Sejumlah siswa berusia sekitar 11–12 tahun disebut tampak serius mengerjakan lembar PRISM–FD, karena merasa “lebih paham” ketika diminta mengekspresikan ketakutan lewat visual.

Penelitian ini melibatkan 314 anak, dengan komposisi responden 55,4 persen dari Desa Sitiarjo dan 44,6 persen dari Kota Makassar. Pengambilan data dilakukan pada periode Juni hingga Agustus 2025, saat intensitas hujan meningkat dan banjir kembali menjadi perhatian di berbagai daerah.

Di Desa Sitiarjo, banjir tahunan dipengaruhi luapan Sungai Penguluran dan karakter wilayah yang membuat genangan mudah meluas. Pengalaman banjir yang berulang membentuk memori kolektif keluarga dan sekolah yang pada gilirannya memengaruhi cara anak menilai ancaman.

Sulsel Tidak Kekurangan BBM, Sulsel Kekurangan Manajemen Krisis

Sementara itu, di Kota Makassar, tim menyoroti kompleksitas banjir perkotaan di permukiman padat penduduk. Nurhayati Selvi menilai tantangan di wilayah urban sering berlapis, sehingga rasa aman anak dapat terganggu bukan hanya oleh air yang datang, tetapi juga oleh kondisi lingkungan yang membuat situasi terasa lebih tidak terkendali.

“Di kawasan padat, ancaman banjir tidak berdiri sendiri. Akses evakuasi yang sempit, kepadatan, dan suasana panik di sekitar bisa ikut membentuk rasa takut anak. Karena itu, instrumen yang bisa menangkap pengalaman subjektif mereka menjadi penting,” ujarnya.

Tim peneliti menegaskan riset ini tidak ditujukan hanya untuk menghasilkan publikasi ilmiah. Data persepsi risiko anak yang terkumpul diharapkan dapat menjadi bahan bagi sekolah untuk memperkuat pendidikan kebencanaan, mulai dari pembelajaran yang lebih kontekstual hingga penguatan kesiapsiagaan psikologis anak.

Nursyam menyebut, temuan dari Sitiarjo dan Makassar dapat membantu pemerintah daerah dan sekolah menyusun langkah yang lebih “ramah anak”, misalnya penajaman SOP, penguatan simulasi, hingga perbaikan rute dan strategi evakuasi yang mempertimbangkan cara anak merespons ancaman.

“Anak bukan sekadar ‘ikut dievakuasi’. Mereka punya persepsi sendiri tentang bahaya. Jika persepsi itu tidak kita baca, maka intervensi pendidikan dan kesiapsiagaan bisa tidak tepat sasaran,” kata Dr. Nur Syam.

Jejak Pemimpin Konstruksi: Dari Ruang Perencanaan ke Panggung Publik

Bantuan Polisi

Bantuan Polisi Polrestabes Makassar

Peristiwa






Pengaduan BID PROPAM

Pengaduan BID PROPAM Polda Sulsel

Teknologi






Politik