Kelangkaan BBM di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dalam beberapa hari terakhir menyisakan satu pertanyaan penting, apakah Sulsel benar-benar kekurangan BBM, atau justru sedang kekurangan manajemen krisis?
Jika Pertamina menyatakan stok BBM tersedia dan persoalan terjadi karena panic buying, sementara masyarakat melihat antrean panjang di SPBU, maka masalahnya tidak berhenti pada soal ada atau tidaknya stok. Masalah utamanya adalah komunikasi publik.
Dalam situasi krisis, masyarakat tidak cukup hanya diberi tahu bahwa stok aman. Mereka membutuhkan penjelasan yang konkret, berapa stok yang tersedia, berapa kebutuhan harian, di mana titik distribusi mengalami gangguan, kapan kondisi diperkirakan normal, dan apa yang sedang dilakukan untuk mengatasinya.
Di sinilah pola komunikasi Pertamina dan Pemerintah Provinsi Sulsel menjadi sangat penting.
Pertamina tidak boleh hanya tampil ketika situasi sudah gaduh. Begitu antrean mulai muncul, informasi harus segera diberikan secara terbuka, konsisten, dan mudah dipahami. Sebaliknya, Pemprov Sulsel tidak boleh sekadar menjadi penerima informasi. Pemerintah daerah harus aktif mengkoordinasikan Pertamina, kepolisian, pemerintah kabupaten/kota, dan pengelola SPBU untuk memastikan distribusi berjalan normal.
Ketika Pertamina mengatakan stok aman, sementara masyarakat melihat antrean berjam-jam, maka terjadi communication gap. Dan dalam krisis, kekosongan informasi hampir selalu diisi oleh rumor, spekulasi, dan kepanikan.
Karena itu, Pemprov Sulsel perlu membangun crisis command center yang mampu memantau stok, distribusi, antrean SPBU, dan kebutuhan masyarakat secara real time. Pertamina pun perlu membuka kanal komunikasi yang responsif dan memberikan pembaruan secara berkala.
Kita juga perlu berhati-hati menggunakan istilah panic buying. Kepanikan masyarakat bisa saja terjadi, tetapi kepanikan bukan muncul dari ruang kosong. Ia sering lahir karena ketidakpastian informasi.
Jadi, persoalannya bukan semata-mata apakah BBM tersedia di tangki Pertamina. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah BBM tersedia di SPBU ketika masyarakat membutuhkannya?
Sulsel mungkin tidak sedang mengalami kekurangan BBM. Tetapi jika masyarakat harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkannya, maka yang sedang diuji adalah kualitas manajemen distribusi dan manajemen krisis pemerintah bersama Pertamina.
Dalam krisis, kecepatan bukan sekadar soal tindakan. Kecepatan memberikan informasi juga bagian dari pelayanan publik.
Dan ketika antrean sudah menjadi pemandangan sehari-hari, publik berhak mendapatkan bukan sekadar pernyataan bahwa stok aman, tetapi bukti bahwa pemerintah dan Pertamina benar-benar mampu mengendalikan keadaan.
#nurmalMIND


