Opini

Padel: Ketika Lapangan Mulai Saling Membunuh

Saya termasuk orang yang cukup aktif bermain padel. Karena itu, saya mulai merasakan sesuatu yang agak berbeda setiap kali datang ke lapangan. Dulu mencari slot bermain saja kadang seperti mencari tiket konser. Sekarang, jangan-jangan lapangannya yang mencari pemain.

Fenomena ini menarik. Bisnis padel sedang tumbuh, tetapi pertumbuhannya mulai memasuki babak yang kurang sehat: perang harga, perang fasilitas, dan perang siapa yang paling kuat bertahan.

Lapangan baru bermunculan. Tarif sewa diturunkan. Promo semakin menggoda. Ada yang memberi diskon, paket member, bonus ini-itu, sampai mungkin sebentar lagi ada promo: sewa lapangan, dapat gorengan.

Bagi pemain, tentu menyenangkan. Harga murah, fasilitas semakin bagus. Tetapi bagi pengusaha, persoalannya tidak sesederhana itu.

Padel adalah bisnis yang padat modal. Tanah mahal, pembangunan lapangan mahal, perawatan tidak gratis, listrik berjalan terus, pegawai harus dibayar, dan fasilitas pendukung juga membutuhkan investasi. Lapangan tidak bisa dijemur di bawah matahari lalu tiba-tiba menghasilkan uang.

Menkeu Baru dan Misi Menyelamatkan Persepsi Prabowo

Masalahnya, kursi kosong tidak bisa dijual kembali. Jam bermain yang lewat tanpa penyewa adalah omzet yang ikut terbang. Karena itu, ketika lapangan mulai banyak tetapi jumlah pemain tidak tumbuh secepat pertumbuhan lapangan, hukum ekonomi akhirnya datang membawa palu godam.

Maka dimulailah perang harga. Pengusaha A menurunkan harga. Pengusaha B ikut menurunkan. Pengusaha C memberikan promo lebih besar. Yang lain kemudian berpikir, “Kalau tidak ikut, nanti pelanggan lari.”

Akhirnya semua sibuk mengejar pelanggan, tetapi lupa menghitung apakah pelanggan itu masih meninggalkan keuntungan.

Inilah bagian lucunya. Bisnisnya disebut olahraga, tetapi pengusahanya justru dipaksa sprint menuju titik impas.

Padahal, harga murah belum tentu strategi bisnis. Kalau harga diturunkan terlalu jauh hanya untuk membuat lapangan terlihat ramai, yang sebenarnya sedang dilakukan bukan memenangkan pasar, melainkan mempercepat pertandingan menuju babak game over.

Sulsel Tidak Kekurangan BBM, Sulsel Kekurangan Manajemen Krisis

Menurut saya, industri padel akan segera memasuki fase seleksi alam. Bukan lagi siapa yang paling banyak lapangannya, tetapi siapa yang paling mampu menciptakan ekosistem pemain.

Lapangan yang hanya menjual tempat bermain akan semakin mudah terjebak perang harga. Tetapi lapangan yang membangun komunitas, turnamen, coaching, liga, membership, event korporasi, restoran, merchandise, hingga pengalaman bermain yang menyenangkan punya sumber pendapatan yang lebih beragam.

Sebab pemain padel sebenarnya tidak hanya membeli satu jam lapangan. Mereka membeli komunitas, gengsi, kenyamanan, pengalaman, dan kesempatan untuk memposting story bahwa hidupnya baik-baik saja.

Karena itu, pengusaha padel sebaiknya berhenti melihat kompetitor hanya sebagai musuh yang harus dibunuh dengan harga. Kalau semua saling banting harga, jangan sampai akhirnya yang tersisa hanya lapangan yang bagus, tetapi pengusahanya sibuk mencari modal tambahan.

Perang harga mungkin membuat pemain tersenyum hari ini. Tetapi kalau terlalu brutal, besok bisa membuat pemain bingung: mau bermain padel di mana karena lapangannya sudah tutup.

Jejak Pemimpin Konstruksi: Dari Ruang Perencanaan ke Panggung Publik

Padel memang olahraga yang dimainkan dengan raket. Tetapi dalam bisnisnya, jangan sampai pengusahanya justru saling “smash” sampai tidak ada yang tersisa.

Yang dibutuhkan sekarang bukan lapangan sebanyak-banyaknya, melainkan industri padel yang sehat, kreatif, dan mampu membuat orang terus datang bermain.

Karena kalau semua pengusaha hanya berlomba menjadi yang termurah, pada akhirnya pertanyaan terpenting bukan lagi:

“Lapangan mana yang paling murah?”

Tetapi:

“Siapa yang masih bertahan?”

#nurmalMIND

Bantuan Polisi

Bantuan Polisi Polrestabes Makassar

Peristiwa






Pengaduan BID PROPAM

Pengaduan BID PROPAM Polda Sulsel

Teknologi






Politik