Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan dirinya melakukan percakapan telepon dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Rabu (4/2/2026). Salah satu topik utama yang dibahas adalah situasi Iran, di tengah meningkatnya upaya Washington untuk mendorong Beijing dan negara lain mengisolasi Teheran.
Trump menyebut pembicaraan tersebut juga mencakup sejumlah isu penting dalam hubungan bilateral AS–Tiongkok, mulai dari perdagangan, masalah Taiwan, hingga rencananya untuk mengunjungi Beijing pada April mendatang.
“Hubungan dengan Tiongkok, dan hubungan pribadi saya dengan Presiden Xi, sangat baik. Kami sama-sama menyadari betapa pentingnya menjaga hubungan itu tetap kuat,” tulis Trump dalam unggahan di media sosialnya.
Sementara itu, pemerintah Tiongkok dalam pernyataan resminya menyebut kedua pemimpin membahas rencana pertemuan puncak besar antara AS dan Tiongkok yang akan digelar tahun depan. Namun, pernyataan tersebut tidak menyinggung rencana kunjungan Trump ke Beijing pada April.
Iran Jadi Sorotan di Tengah Ketegangan Tinggi
Isu Iran menjadi perhatian utama dalam pembicaraan Trump dan Xi, menyusul ketegangan yang masih tinggi antara Washington dan Teheran. Ketegangan ini dipicu oleh tindakan keras berdarah pemerintah Iran terhadap protes nasional yang terjadi bulan lalu.
Trump bahkan menyatakan sedang mempertimbangkan opsi tindakan militer terhadap Iran. Ia juga mendesak Teheran agar membuat konsesi terkait program nuklirnya.
Pemerintah AS mengklaim program nuklir Iran telah mengalami kemunduran setelah Amerika Serikat membombardir tiga fasilitas nuklir Iran selama perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu.
AS dan Iran Sepakat Gelar Pembicaraan di Oman
Di sisi lain, pejabat AS dan Iran mengonfirmasi bahwa kedua negara sepakat menggelar pembicaraan tingkat tinggi pada Jumat mendatang di Oman. Awalnya, pertemuan ini dijadwalkan berlangsung di Turki, namun dipindahkan atas permintaan Iran.
Seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara secara anonim mengatakan Washington tetap “sangat skeptis” terhadap peluang keberhasilan dialog tersebut, namun tetap mengikuti perubahan lokasi sebagai bentuk penghormatan terhadap sekutu regional.
China Jadi Mitra Dagang Terbesar Iran
Trump sebelumnya mengumumkan kebijakan tarif baru, yakni pajak impor sebesar 25% bagi negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran. China tercatat sebagai mitra dagang terbesar Teheran.
Meski telah lama dikenai sanksi internasional terkait program nuklirnya, Iran masih aktif dalam perdagangan global. Data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mencatat nilai perdagangan internasional Iran mencapai hampir US$125 miliar pada 2024.
Dari jumlah tersebut, perdagangan dengan China mencapai US$32 miliar, diikuti Uni Emirat Arab sebesar US$28 miliar, serta Turki senilai US$17 miliar.


