LUWU,RAKYATSULSEL — Menjadi seorang camat bukan sekadar duduk di balik meja pemerintahan. Ada tuntutan untuk hadir, mendengar dan memahami persoalan masyarakat.
Hal itu pula yang berusaha ditunjukkan Camat Belopa, Kabupaten Luwu, Latif Muh. Abduh.
Sejak dilantik Bupati Luwu, H. Patahudding, pada 20 Februari 2026, Latif memilih membangun komunikasi yang dekat dengan masyarakat. Ia tidak ingin jarak antara pemerintah kecamatan dan warga menjadi sekat dalam pelayanan.
Di tengah aktivitas pemerintahan yang cukup padat, Latif tak segan berbaur dengan masyarakat.
Mendengar keluhan, menyerap aspirasi hingga melihat langsung berbagai persoalan yang dihadapi warga menjadi bagian dari gaya kepemimpinannya.
Bagi Latif, pemerintah harus hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Pendekatan humanis itu kemudian tidak berhenti pada komunikasi. Ia mencoba menerjemahkannya ke dalam perubahan pelayanan publik di Kecamatan Belopa.
Salah satu yang menonjol adalah lahirnya Sistem Informasi Kematian Masyarakat Secara Real Time pada Kecamatan Belopa (SIKAMASE).
Inovasi tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan administrasi yang cepat, terutama dalam proses pelaporan kematian dan penerbitan dokumen administrasi kependudukan.
Melalui SIKAMASE, proses yang sebelumnya berpotensi membutuhkan waktu lebih panjang didorong menjadi lebih cepat, tepat dan terintegrasi.
Kerja tersebut akhirnya mendapat pengakuan.
Pemerintah Kecamatan Belopa menerima penghargaan dari Bupati Luwu atas partisipasinya dalam pelaporan dan pengukuran Indeks Inovasi Daerah Kabupaten Luwu Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian
Dalam Negeri Republik Indonesia.
Penghargaan itu diserahkan langsung Bupati Luwu H. Patahudding dalam malam ramah tamah HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di Rumah Jabatan Bupati Luwu, Pammanu, Kecamatan Belopa Utara.
Namun bagi Latif, penghargaan tersebut bukanlah sebuah pencapaian pribadi.
Ia justru menyebut keberhasilan itu sebagai buah dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa dan kelurahan hingga masyarakat.
“Penghargaan ini bukan hanya milik Pemerintah Kecamatan Belopa, tetapi merupakan hasil kerja bersama. SIKAMASE lahir dari kolaborasi, kepedulian, dan komitmen banyak pihak untuk menghadirkan pelayanan yang lebih cepat dan mudah bagi masyarakat,” tutur Latif.
Memotong Jarak Birokrasi
Ada satu hal yang ingin ditekankan Latif sejak memimpin Kecamatan Belopa: pelayanan pemerintah harus semakin mudah dijangkau masyarakat.
Karena itu, perubahan tidak hanya dilakukan pada sistem pelayanan, tetapi juga pada cara pemerintah berkomunikasi dengan warganya.
Informasi publik mulai didorong lebih aktif melalui ruang digital dan media sosial. Program pemerintah, informasi pelayanan hingga berbagai kegiatan di wilayah Kecamatan Belopa disebarluaskan melalui kanal digital agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan informasi.
Bagi Latif, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperpendek jarak antara pemerintah dan masyarakat.
Semangat yang sama diterapkan dalam pelayanan. Mata rantai birokrasi yang dianggap dapat memperlambat masyarakat berusaha dipangkas agar warga dapat memperoleh pelayanan atas hak-hak dasarnya secara lebih cepat.
Di sinilah sosok Latif Muh. Abduh mencoba membangun wajah pemerintahan kecamatan yang berbeda.
Bukan hanya sebagai administrator pemerintahan, tetapi juga sebagai pelayan masyarakat yang mau turun dan mendengar.
Camat yang Ingin Selalu Hadir
Perjalanan Latif sebagai Camat Belopa memang masih tergolong baru. Namun dalam waktu yang relatif singkat, ia telah mencoba menanamkan satu pesan sederhana: pemerintah tidak boleh berjarak dengan masyarakat.
Kedekatan dengan warga, keterbukaan menerima keluhan, inovasi pelayanan dan pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari langkah yang ia bangun.
Ia juga terus mengawal program-program Bupati dan Wakil Bupati Luwu di wilayah Kecamatan Belopa, sembari memastikan informasi dan k
[20/8, 08.33] Irwan Musa: Kecamatan Belopa, sembari memastikan informasi dan kebijakan pemerintah dapat diterima masyarakat.
Pada akhirnya, penghargaan SIKAMASE mungkin hanya sebuah bentuk pengakuan.Lebih jauh dari itu, bagi masyarakat Belopa, ukuran keberhasilan seorang camat bukan hanya berapa banyak penghargaan yang diperoleh.Melainkan seberapa jauh kehadiran pemerintah dapat dirasakan.
Dan Latif Muh. Abduh tampaknya ingin menjadikan hal itu sebagai bagian dari cara ia memimpin: hadir di tengah warga, mendengar persoalan mereka, lalu menghadirkan pelayanan yang lebih cepat dan mudah(Irmus)


