Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang meski waktu terus berjalan.
Sebelas tahun berlalu, namun ingatan tentang pesawat Aviastar yang jatuh di kawasan Bukit Bajaja, Dusun Gamaru, Desa Ulu Salu, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, masih melekat kuat dalam ingatan warga.
Di tempat yang pernah menjadi saksi sebuah operasi kemanusiaan besar itu, Kamis (8/10/2026), suasana berbeda terasa.
Pengajian kaum ibu Majelis Taklim Dusun Gamaru membuka sebuah acara syukuran sederhana. Doa-doa dipanjatkan, bukan hanya sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan karier seorang putra Bhayangkara, tetapi juga sebagai penanda bahwa hubungan emosional yang terbangun dari sebuah misi kemanusiaan ternyata tidak ikut hilang bersama berlalunya waktu.
Sosok itu adalah Irjen Pol Adex Yudiswan, mantan Kapolres Luwu yang kini mendapat amanah baru sebagai Wakapolda Metro Jaya.
Bagi warga Gamaru, Adex bukan sekadar mantan pejabat kepolisian yang pernah bertugas di Luwu. Ia adalah bagian dari cerita mereka.
Sebelas tahun silam, Adex bersama tim darat Polres Luwu berada di tengah medan berat kawasan Bukit Bajaja dalam operasi pencarian dan evakuasi pesawat Aviastar.
Medan yang terjal, perjalanan panjang dan situasi penuh ketidakpastian menjadi bagian dari perjuangan menemukan pesawat dan mengevakuasi para korban.
Di situlah hubungan antara polisi dan warga Gamaru tumbuh dalam sebuah peristiwa kemanusiaan.
Kini, setelah 11 tahun berlalu, mereka kembali duduk bersama dalam bentuk syukuran.
Camat Latimojong Nur Agam, Kepala Desa Ulu Salu Kadarusman Samad, Mantan Kades Ulu Salu Mukzizat, Imam Desa Ulu Salu Lukman S, tokoh masyarakat Tunas Lande, dan Rahman B, serta sejumlah warga yang dahulu terlibat dalam operasi pencarian dan evakuasi turut hadir dalam syukuran tersebut.
Kenangan yang Tak Pernah Hilang
Tunas Lande menjadi salah satu warga yang masih menyimpan erat kenangan perjalanan menuju lokasi jatuhnya Aviastar.
Baginya, penemuan pesawat tersebut bukan sekadar sebuah peristiwa. Ada kisah kemanusiaan yang melekat di dalamnya.
“Alhamdulillah, syukuran ini menjadi penanda bahwa hubungan silaturahmi dengan Pak Adex tidak pernah putus. Bahkan saat beliau bertugas di Mabes Polri hingga dipromosikan menjadi jenderal bintang dua sebagai Wakapolda Metro Jaya, hubungan emosional dengan kami warga Gamaru tetap terjaga,” ujar Tunas.
Ia kembali mengenang perjalanan 11 tahun silam ketika bersama tim darat Polres Luwu menyusuri kawasan Bukit Bajaja.
“Momen penemuan pesawat Aviastar bersama tim darat Polres Luwu yang dipimpin Bapak Adex Yudiswan merupakan bagian dari operasi kemanusiaan yang sangat mulia dan tidak bisa dilupakan,” katanya.
Bagi Tunas dan warga Gamaru, perjalanan itu meninggalkan ikatan yang tidak mudah terhapus.
Reuni Setelah Sebelas Tahun
Syukuran tersebut sekaligus berubah menjadi reuni kecil.Sejumlah personel yang dahulu menjadi bagian dari tim darat Polres Luwu kembali bertemu dengan warga yang pernah bersama-sama melewati masa sulit dalam pencarian Aviastar.
Mereka antara lain Ipda Dindar, Ipda Ibrahim, Aipda Roni, Aiptu Amirullah, Aipda Samsir, Aiptu Zulkarnain, Bripka Herianto, Brigpol Akbar, serta jurnalis senior Irwan Musa yang saat itu turut berada dalam rangkaian operasi dan peliputan evakuasi.
Nama lainnya tak sempat hadir akibat kesibukan bertiugas sebagai anggota Polri yakni Aiptu Andi Makkataru,Aipda Tahir,Aipda Samsir,Kompol Ganesa,Kompol Dedi Setiawan,Ronal dan Riyan ikut menitip pesan ke warga Gamaru.
Bahkan salah satu personil yang terlibat tim darat polres Luwu Briptu Askhabul Rifki setelah mutasi ke Polres Gowa telah menghadap Kepada sang khalik.Almarhum adalah Driver dinas Irjen Adex Yudiswan saat menjabat Kapolres Luwu saat itu.
Nama-nama itu mungkin telah menempuh jalan masing-masing selama 11 tahun terakhir.Namun, Gamaru mempertemukan mereka kembali dalam satu kenangan yang sama.
Camat Latimojong Nur Agam mengaku melihat perhatian Irjen Adex Yudiswan kepada masyarakat Gamaru sebagai sesuatu yang patut diapresiasi.
“Alhamdulillah, beliau sangat peduli dengan warga kami. Pak Adex ini orang baik. Beberapa warga yang ikut terlibat saat menemukan Aviastar bahkan sudah ada yang di-umrahkan,” ujar Nur Agam.
Ia bahkan mengusulkan agar sejarah tersebut tidak berhenti sebagai cerita dari mulut ke mulut.Menurutnya, perlu ada sebuah penanda sejarah di Gamaru.
“Saya mengusulkan dibangun tugu mini yang dilengkapi serpihan bangkai Aviastar untuk mengingat momen tersebut,” katanya.
Usulan itu pun diamini Kepala Desa Ulu Salu Kadarusman Samad.
Dari Kenangan Menjadi Kepedulian
Di tengah suasana penuh kenangan itu, warga juga menyampaikan harapan lain.
Rahman B, salah seorang warga, mengusulkan dukungan untuk penyelesaian sejumlah fasilitas Masjid di Dusun Gamaru.
“Kami berharap masjid kami di Dusun Gamaru bisa dibantu untuk merampungkan beberapa bagian, seperti tempat wudu dan lantai masjid,” ungkap Rahman.
Permintaan tersebut tidak berhenti sebagai sebuah usulan.Melalui grup WhatsApp tim Aviastar, Irjen Pol Adex Yudiswan langsung merespons.
“Tolong didata berapa kebutuhan untuk masjid di Dusun Gamaru. Insyaallah saya akan bantu,” kata Adex.
Begitu pula dengan gagasan pembangunan tugu mini sebagai penanda sejarah Aviastar. Usulan tersebut mendapat perhatian Adex.
Seolah ingin memastikan bahwa hubungan yang telah terbangun sejak 2015 tidak berhenti sebagai nostalgia, Adex menitipkan pesan kepada warga Gamaru agar tetap menjaga persatuan dan silaturahmi.
“Tetap jaga solidaritas, jaga silaturahmi dengan pemerintah setempat. Salam hormat saya buat warga Gamaru. Jujur saya rindu akan momen di sana. Sudah 11 tahun belum sempat ke Gamaru,” pesannya.
Sebuah Janji untuk Kembali
Sehari sebelumnya, Rabu malam, saat mantan tim Aviastar menuju Dusun Gamaru, sebuah percakapan sederhana terjadi melalui video call.
Adex Yudiswan menghubungi Tunas Lande melalui telepon seluler milik Ipda Ibrahim.
Tidak ada pembicaraan formal.
Tidak ada jarak antara seorang jenderal dan warga desa.Yang terdengar justru percakapan hangat penuh keakraban.
“Pak Tunas, apa kabar? Sehat, ya?” kata Adex.
Percakapan singkat itu kembali membuka lembaran kenangan 11 tahun silam.
Adex pun menyampaikan janjinya untuk kembali ke Gamaru.
“Setelah serah terima jabatan, saya jadwalkan ke Gamaru,” pesan Adex kepada Tunas.
Sebuah janji sederhana, namun bagi warga Gamaru memiliki makna yang dalam.
Sebab ada tempat-tempat tertentu yang bukan hanya menjadi lokasi sebuah peristiwa, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Gamaru, Aviastar dan Sebuah Ikatan
Syukuran itu akhirnya ditutup dengan santap siang bersama.
Adex Yudiswan turut menyumbangkan seekor sapi untuk warga Gamaru sebagai bagian dari rasa syukurnya.
Hari itu, Gamaru tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah acara syukuran.Gamaru kembali menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini.
Sebelas tahun setelah operasi pencarian Aviastar, para personel yang pernah menyusuri bukit, warga yang pernah membantu di medan berat, dan mereka yang menyaksikan peristiwa tersebut kembali duduk bersama.
Waktu boleh berjalan.Karier boleh membawa seseorang ketempat yang jauh.Namun, sebuah ikatan yang lahir dari pengabdian dan kemanusiaan terkadang memiliki cara sendiri untuk tetap bertahan.
Dan di Gamaru, kenangan tentang Aviastar seakan kembali bercerita
bahwa sebuah operasi kemanusiaan pada Oktober 2015 ternyata tidak hanya meninggalkan jejak di lereng Bukit Bajaja.
Ia juga meninggalkan persaudaraan yang hingga hari ini masih terjaga.
Padatkan(Irmus/*)


