PAREPARE – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai memicu krisis air bersih di Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Sejumlah wilayah mengalami gangguan pasokan air hingga berhari-hari, memaksa warga mencari sumber air alternatif dengan berjalan kaki menempuh medan berbukit.
Salah seorang warga Kelurahan Ujung Baru, Kecamatan Soreang, Nurhalimah, mengaku sudah tiga hari rumahnya tidak dialiri air bersih. Kondisi tersebut membuat ia bersama anak-anaknya harus menumpang mandi di rumah kerabat.
“Sudah tiga hari sama ini (air tidak mengalir). Mengungsi mandi di rumahnya Mama,” ujar Nurhalimah, Senin (3/8/2026).
Untuk mendapatkan air, ia harus berjalan kaki sekitar 20 menit melewati jalan menanjak dan menurun menuju rumah keluarganya.
“Ada 20 menit tadi ke sini. Kita jalan ke atas (bukit). Jalan-jalan begitu sama anak-anak, naik-turun bukit,” katanya.
Krisis air bersih itu bahkan mulai mengganggu aktivitas pendidikan anak-anaknya. Nurhalimah mengaku terpaksa tidak mengizinkan anaknya berangkat ke sekolah apabila tidak tersedia air untuk mandi.
“Ya terpaksa tidak sekolah dulu kalau tidak ada air, karena tidak mandi,” ungkapnya.
Kondisi serupa juga dialami warga lainnya, Fajar. Ia mengatakan pasokan air di rumahnya sudah tidak mengalir sejak sehari sebelumnya, sementara beberapa tetangganya bahkan mengalami gangguan hingga tiga hari.
“Sejak kemarin (susah air). Cuma tidak tahu, beda-beda biasanya orang. Ada yang dua, tiga hari tidak mengalir airnya,” tuturnya.
Sepulang bekerja, Fajar mengaku belum bisa mandi karena tidak ada air di rumah. Ia pun kembali bergantung pada rumah keluarganya.
“Ini lagi baru saya pulang kerja belum mandi, mengungsi ke rumah nenek mandi,” ujarnya.
Menurut Fajar, setiap warga memiliki cara berbeda untuk memenuhi kebutuhan air selama krisis berlangsung. Ada yang mengambil air dari rumah kerabat, sementara sebagian lainnya mengangkut air dari masjid menggunakan jeriken.
“Beda-beda (cara warga lain), ada orang pergi ke masjid pakai jeriken ambil air, bolak-balik pakai motor. Mudah-mudahan jalan air, bisa dipakai mandi, mencuci,” harapnya.
PAM Siapkan Penggiliran Distribusi
Direktur PAM Tirta Karajae Parepare, Abdul Azis, mengakui musim kemarau ekstrem telah menyebabkan penurunan drastis debit air baku. Produksi air yang biasanya mencapai 120 hingga 130 liter per detik kini diperkirakan hanya berkisar 60 hingga 80 liter per detik.
“Kondisi air PDAM yang kita lihat ini sangat menurun akibat pengaruh musim sekarang yang sangat ekstrem. Sehingga berdampak pada pendistribusian dan pengolahan air bersih di Kota Parepare, khususnya yang terlayani sumber air permukaan,” jelas Azis.
Untuk menjaga pemerataan layanan, PAM Tirta Karajae tengah menyiapkan skema penggiliran distribusi air ke wilayah pelanggan apabila kondisi kemarau terus berlanjut.
“Kalau cuaca bertahan seperti ini, besar kemungkinan dilakukan penggiliran untuk daerah-daerah tertentu. Pada jam-jam tertentu kami matikan di satu wilayah, kemudian distribusikan ke yang lain,” katanya.
Selain itu, perusahaan juga menyiapkan armada mobil tangki guna menyalurkan air bersih langsung ke kawasan yang mengalami kesulitan pasokan, terutama permukiman di wilayah perbukitan.
“Itu mungkin langkah taktis yang coba kita lakukan di samping dengan membantu masyarakat untuk pendistribusian langsung dengan menggunakan armada mobil tangki,” ujarnya.
Azis menambahkan, pendataan wilayah terdampak masih terus dilakukan. Menurutnya, jaringan distribusi air di Parepare saling terhubung sehingga dampak penurunan debit air dapat dirasakan di sejumlah kawasan.
“Kalau terkait jumlah kecamatan itu belum bisa kita data. Karena kita punya pipa itu interkoneksi ji. Cuman memang pasti ada yang terdampak, tetapi masih bisa terlayani,” pungkasnya.


