Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang disiapkan untuk mencetak calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) menjadi sorotan setelah empat pesertanya dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil).
Bertambahnya jumlah korban memicu evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program yang melibatkan pelatihan dasar kemiliteran tersebut. Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan Kementerian Sekretariat Negara memastikan proses evaluasi sedang dilakukan untuk mengkaji seluruh prosedur pelatihan, termasuk mekanisme pemeriksaan kesehatan peserta.
Sebelumnya, Kemhan mengonfirmasi dua peserta pertama yang meninggal dunia, yakni Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq.
Anisa merupakan peserta yang mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan. Berdasarkan keterangan medis, ia meninggal dunia akibat heat stroke atau sengatan panas setelah sempat mendapatkan penanganan medis pada 18 Juni 2026.
Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pelatihan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Sumatera Selatan, meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan.
Beberapa hari kemudian, jumlah korban kembali bertambah. Salah seorang peserta lainnya, Novia Rahmadhani Sihotang, dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani pelatihan di Pusat Bahasa Kodiklatau Jakarta.
Berdasarkan penjelasan Kemhan, Novia sempat mengalami gangguan kesehatan sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa. Hasil pemeriksaan medis menyebut peserta tersebut memiliki penyakit tuberkulosis (TBC) yang diketahui setelah menjalani perawatan.
Perkembangan terbaru, Kemhan menyatakan jumlah peserta yang meninggal dunia bertambah menjadi empat orang. Namun hingga kini pemerintah belum merinci identitas lengkap korban keempat maupun penyebab pasti kematiannya kepada publik. Kemhan menyebut proses pendalaman masih berlangsung bersama Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) dan pihak penyelenggara pendidikan.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menegaskan seluruh peserta yang mengikuti program telah melalui proses seleksi, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti pendidikan dasar militer.
Selain menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, Kemhan memastikan evaluasi dilakukan terhadap seluruh aspek penyelenggaraan program, mulai dari seleksi kesehatan, pengawasan medis selama latihan, hingga sistem penanganan peserta yang mengalami gangguan kesehatan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga menegaskan pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan SPPI.
Menurutnya, pemerintah turut berduka atas meninggalnya para peserta dan berkomitmen memperbaiki setiap tahapan pelaksanaan program agar keselamatan peserta tetap menjadi prioritas.
Prasetyo mengatakan pemerintah masih mendalami apakah terdapat hubungan langsung antara pelatihan yang dijalani dengan meninggalnya para peserta, mengingat setiap korban juga memiliki kondisi kesehatan yang berbeda-beda.
Di sisi lain, peristiwa ini memunculkan berbagai tanggapan dari sejumlah kalangan. Beberapa anggota DPR meminta materi pelatihan dasar kemiliteran dievaluasi, sementara organisasi masyarakat sipil turut mempertanyakan urgensi pelatihan militer bagi calon pengelola koperasi desa.
Program SPPI sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah menyiapkan puluhan ribu sumber daya manusia yang akan mengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih di berbagai daerah. Selain pelatihan dasar kemiliteran, peserta juga dijadwalkan mengikuti pembekalan manajerial, kepemimpinan, dan pengelolaan koperasi sebelum ditempatkan di wilayah tugas masing-masing.


