Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung bukan sekadar kisah kecelakaan udara di medan ekstrem. Ia adalah potret telanjang tentang bagaimana negara bekerja—dan terkadang terseok—saat berhadapan dengan alam yang keras, waktu yang mendesak, serta nyawa manusia yang dipertaruhkan.
Di tengah kabut tebal, hujan yang turun nyaris tanpa jeda, dan tebing curam yang memisahkan puncak dari kaki gunung, satu fakta menjadi terang: negara tidak sendirian di medan bencana. Ada warga lokal—petani, pencari madu, penjaga hutan yang tak tercatat dalam struktur birokrasi—yang justru lebih dahulu menemukan badan pesawat. Mereka hadir bukan dengan seragam, melainkan dengan pengetahuan medan yang diwariskan alam dan pengalaman bertahun-tahun.
Pengetahuan Lokal yang Terbukti Nyata
Nama Nursalim Yunus dan kelompok pencari madu dari Desa Tompo Bulu menjadi simbol penting dalam peristiwa ini. Mereka menemukan badan pesawat yang tersangkut di tebing terjal, di lokasi yang bahkan sulit dijangkau dengan peralatan SAR standar. Jalur yang mereka tawarkan—memutar dari kaki gunung, melewati hutan menuju wilayah Rompegading, Maros—bukanlah hasil peta digital, melainkan hasil relasi panjang dengan hutan.
Di titik inilah kita perlu bertanya secara jujur:
mengapa pengetahuan lokal sering baru dianggap penting setelah negara menemui kebuntuan?
Operasi SAR modern memang ditopang teknologi, helikopter, dan prosedur ketat. Namun Bulusaraung mengajarkan bahwa dalam kondisi tertentu, teknologi bisa kalah oleh cuaca, dan prosedur bisa kalah oleh topografi. Ketika evakuasi udara tertahan kabut, dan jalur tali tak memungkinkan, justru warga lokal yang mengetahui “jalan pulang” dari hutan.
Golden Time dan Ironi Waktu
Basarnas menyebut keberhasilan menemukan lokasi jatuhnya pesawat dalam waktu kurang dari 24 jam sebagai capaian penting. Secara prosedural, itu benar. Namun di lapangan, golden time tidak hanya ditentukan oleh kecepatan menemukan titik, melainkan oleh kecepatan menjangkau dan mengevakuasi.
Fakta bahwa warga telah menemukan badan pesawat sejak Minggu pagi, namun hingga sore hari belum ada tim SAR yang tiba, menyisakan ironi. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menjadi evaluasi bersama:
apakah sistem komando, koordinasi, dan distribusi informasi sudah cukup adaptif terhadap medan ekstrem?
Negara yang Hadir, Tapi Perlu Mendengar
Kehadiran Menteri Perhubungan di Posko AJU menunjukkan keseriusan negara. Pernyataan soal kelayakan terbang pesawat, kehati-hatian dalam menyimpulkan penyebab kecelakaan, serta penegasan menunggu hasil DVI adalah sikap yang tepat secara administratif dan hukum.
Namun tragedi ini juga mengajarkan bahwa kehadiran negara tidak cukup hanya dalam bentuk pejabat dan pernyataan resmi. Negara juga harus hadir dengan kemampuan mendengar, belajar, dan berkolaborasi secara setara dengan masyarakat lokal.
Bukan sebagai pelengkap, bukan sebagai “tenaga tambahan”, melainkan sebagai mitra strategis dalam misi kemanusiaan.
Di Antara Data DNA dan Duka Keluarga
Proses pengambilan DNA, identifikasi korban, hingga rencana santunan menegaskan satu hal: negara bekerja dengan prosedur. Namun di balik prosedur itu, ada keluarga yang menunggu dalam ketidakpastian, ada duka yang menggantung, dan ada waktu yang terasa jauh lebih lambat dari jam resmi.
Ketika jenazah belum teridentifikasi, ketika evakuasi tertahan cuaca, dan ketika jawaban belum bisa diberikan, satu hal yang paling dibutuhkan adalah kejelasan komunikasi dan empati publik. Bencana bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal rasa.
Pelajaran dari Bulusaraung
Gunung Bulusaraung hari ini bukan hanya lokasi jatuhnya pesawat. Ia menjadi ruang refleksi nasional tentang:
- pentingnya integrasi pengetahuan lokal dalam sistem penanggulangan bencana,
- perlunya fleksibilitas prosedur di medan ekstrem,
- dan urgensi menempatkan kemanusiaan sebagai pusat dari setiap keputusan.
Operasi SAR akan berakhir suatu hari nanti. Namun pertanyaan besarnya adalah:
apakah setelah ini kita akan kembali lupa pada para penjaga hutan yang pertama kali menemukan jejak tragedi?
Jika iya, maka Bulusaraung hanya akan menjadi catatan kecelakaan.
Jika tidak, ia bisa menjadi titik balik cara negara memandang warganya sendiri.


