Konflik selama ini sering dianggap seperti penyakit. Kalau ada konflik, buru-buru dicari obatnya. Padahal, tidak semua konflik harus disembuhkan.
Ada konflik yang justru perlu dipelihara—asal jangan sampai dipelihara seperti memelihara dendam.
Sebab, konflik pada dasarnya adalah tanda bahwa seseorang masih peduli. Orang yang berkonflik biasanya punya satu keyakinan. “Saya bisa lebih baik daripada dia.” Nah, keyakinan semacam ini, kalau dikelola dengan waras, bisa menjadi energi yang luar biasa.
Lihat saja orang yang merasa disaingi. Tiba-tiba rajin bekerja. Yang merasa diremehkan mendadak ingin membuktikan diri. Yang merasa kalah mulai belajar. Bahkan yang sebelumnya malas berolahraga bisa tiba-tiba rajin lari hanya karena melihat tetangganya sudah punya perut lebih kecil.
Jadi, konflik kadang-kadang adalah vitamin ambisi.
Masalahnya bukan pada konfliknya. Masalahnya adalah ketika konflik berubah menjadi kebencian. Dari semula “saya ingin lebih baik”, berubah menjadi “saya ingin dia tidak baik”. Di titik itu, energi kompetisi berubah menjadi energi penghancuran.
Padahal, konflik yang sehat sebenarnya sederhana: silakan bersaing, tetapi jangan saling membakar rumah.
Dalam organisasi, politik, pemerintahan, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan kepentingan adalah sesuatu yang normal. Kalau semua orang selalu sepakat, kita justru patut curiga. Bisa jadi bukan karena semua pintar mencapai mufakat, tetapi karena semua sudah kehilangan keberanian untuk berbeda.
Konflik yang dikelola dengan baik bisa melahirkan inovasi. Kritik membuat orang memperbaiki diri. Persaingan membuat orang bekerja lebih keras. Bahkan sindiran kadang lebih efektif daripada seminar tiga hari.
Karena itu, mungkin kita tidak perlu bercita-cita menciptakan dunia tanpa konflik. Itu terlalu romantis. Ciptakan saja konflik yang sehat, lawan yang membuat kita berkembang, dan perbedaan yang membuat kita berpikir.
Sebab hidup tanpa konflik mungkin memang tenang.
Tapi terlalu tenang juga berbahaya.
Bisa-bisa kita semua menjadi malas.
Dan dalam kondisi seperti itu, satu-satunya konflik yang tersisa hanyalah rebutan colokan listrik.
#nurmalMIND


