Ekonomi

Rupiah Tertekan, Biaya Liburan ke Sulsel Ikut Melonjak

Rupiah Tertekan, Biaya Liburan ke Sulsel Ikut Melonjak
Rupiah Tertekan, Biaya Liburan ke Sulsel Ikut Melonjak

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan nyata terhadap sektor pariwisata Sulawesi Selatan. Salah satu dampak yang paling terasa adalah kenaikan harga tiket pesawat yang membuat sebagian masyarakat mulai menunda perjalanan wisata.

Kondisi ini menjadi perhatian pelaku industri perjalanan. Meski belum sampai pada fase krisis, tanda-tanda perlambatan mulai terlihat. Mulai dari berkurangnya frekuensi penerbangan, durasi menginap wisatawan yang makin pendek, hingga kecenderungan masyarakat memilih menunda liburan.

Di tengah tekanan ekonomi global dan fluktuasi kurs dolar, sektor pariwisata Sulsel kini menghadapi tantangan baru. Arus wisatawan harus tetap dijaga, sementara biaya mobilitas semakin mahal.

Tiket Pesawat Jadi Penentu Utama Wisatawan

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Sulawesi Selatan, Didi L Manaba, mengatakan tiket pesawat menjadi salah satu faktor paling menentukan bagi wisatawan sebelum memutuskan bepergian.

Menurutnya, kenaikan harga tiket akibat pelemahan rupiah langsung memengaruhi minat masyarakat untuk berwisata, terutama wisatawan domestik yang sangat sensitif terhadap biaya perjalanan.

BSU Rp900.000 Belum Cair, Pemerintah Masih Susun Aturan Teknis

“Dolar ini sangat terpengaruh dengan fluktuasi harga tiket pesawat. Jadi, komponen utama yang akan ditanyakan oleh wisatawan pada saat dia akan melakukan perjalanan adalah tiket pesawat,” ujar Didi, Minggu (24/5/2026).

Didi menjelaskan, wisatawan yang sudah merencanakan perjalanan sejak jauh hari kemungkinan tetap berangkat. Namun, bagi masyarakat yang baru menyusun rencana liburan, kenaikan harga tiket bisa membuat mereka berpikir ulang.

“Nah, dampaknya adalah mereka akan berpikir. Kecuali orang yang sudah jauh hari merencanakan perjalanan, itu bisa jadi tetap dia lakukan perjalanannya. Tapi kalau yang baru merencanakan bisa jadi ada penundaan,” katanya.

Dampak Global Ikut Memengaruhi Perjalanan

Didi menilai tekanan terhadap sektor pariwisata tidak hanya datang dari pelemahan rupiah. Situasi geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian ekonomi internasional, juga ikut memengaruhi mobilitas wisatawan dalam beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, sektor perjalanan sangat sensitif terhadap isu global karena berkaitan langsung dengan rasa aman, daya beli, dan biaya transportasi.

Harga Emas Antam Hari ini Turun Rp10.000 per Gram, Buyback Ikut Melemah

“Kalau kita bicara flashback ke yang lalu, memang rentetan daripada dampak daripada banyaknya terjadi hal-hal yang kita tidak inginkan itu, seperti situasi Timur Tengah dan lain-lain, memang ini berpengaruh dengan perjalanan,” ujarnya.

Meski begitu, pelemahan rupiah tidak sepenuhnya memberi dampak negatif. Dalam kondisi tertentu, Indonesia justru menjadi destinasi yang lebih murah bagi wisatawan asing karena nilai tukar mata uang mereka lebih kuat dibanding rupiah.

Didi mencontohkan wisatawan asal Malaysia yang masih cukup aktif berkunjung ke Indonesia. Penguatan nilai tukar ringgit membuat biaya wisata mereka di Indonesia relatif lebih terjangkau.

Wisman Naik, Tapi Hotel Mulai Tertekan

Data Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan yang dirilis awal Mei 2026 menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulsel pada Maret 2026 mencapai 2.344 kunjungan. Angka ini naik 66,24 persen dibanding Februari 2026 dan meningkat 80,31 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Wisatawan asal Malaysia masih mendominasi kunjungan ke Sulawesi Selatan dengan 1.344 kunjungan. Setelah itu, disusul wisatawan asal Tiongkok sebanyak 227 kunjungan.

Transaksi Jumbo Saham BCA Rp3,06 Triliun dalam Sepekan, BCA Bantah Rumor Akuisisi Haji Isam

Namun, di balik kenaikan jumlah wisatawan asing, sektor perhotelan mulai menunjukkan gejala perlambatan. Tingkat Penghunian Kamar hotel berbintang di Sulsel tercatat hanya 39,61 persen atau turun 4,89 poin dibanding Februari 2026. Rata-rata lama menginap tamu hotel juga turun menjadi 1,45 malam.

Didi menilai kondisi ini berkaitan dengan pengurangan frekuensi penerbangan sejumlah maskapai yang mulai melakukan efisiensi akibat tingginya biaya operasional.

“Contoh Air Asia, yang tadinya dia mau turun 4 hari jadi 3 hari gara-gara adanya pengurangan atau penurunan flight-nya,” ungkapnya.

Menurut Didi, pengurangan frekuensi penerbangan menjadi sinyal awal melambatnya pergerakan wisatawan ke Sulawesi Selatan. Jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya dikhawatirkan semakin terasa hingga akhir tahun.

“Khawatirnya kita, ini berdampak sampai akhir tahun. Jadi kalau kita melihat di tahun ini memang sudah ada. Yang paling berpengaruh sekali lagi adalah maskapai penerbangan atau airlines,” katanya.

Biaya Maskapai Banyak Bergantung pada Dolar

Tekanan terhadap industri penerbangan menjadi persoalan utama di tengah melemahnya rupiah. Berdasarkan data Bank Indonesia per 22 Mei 2026, kurs jual dolar AS tercatat Rp17.761,37, sementara kurs beli berada di level Rp17.584,63.

Kondisi ini berdampak langsung pada biaya operasional maskapai nasional. Sebagian besar komponen penerbangan masih bergantung pada dolar AS, mulai dari bahan bakar, perawatan, suku cadang, sewa pesawat, hingga asuransi.

Pengamat ekonomi Universitas Hasanuddin, Anas Iswanto Anwar, mengatakan industri penerbangan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga avtur dan kurs dolar.

Menurutnya, bahan bakar avtur menyumbang lebih dari 60 persen biaya operasional pesawat.

“Nah penerbangan itu juga kan sangat tergantung dari bahan bakarnya. Avturnya itu lebih 60 persen biaya operasional pesawat itu pada BBM-nya atau avturnya. Nah ini harga avtur kan juga naik,” jelasnya.

Kenaikan biaya operasional tersebut pada akhirnya membuat maskapai menyesuaikan tarif penerbangan.

“Ya memang naiknya hampir semua maskapai di seluruh dunia pasti melakukan penyesuaian tarif, penyesuaian harga. Nah itu kan akhirnya orang tidak tertarik untuk pergi berwisata,” ujarnya.

Anas menyebut dampak mahalnya tiket pesawat sudah mulai terasa sejak momentum Lebaran. Banyak masyarakat memilih menunda bahkan membatalkan perjalanan karena biaya transportasi udara semakin tinggi.

“Oh iya pasti. Terakhir kan mulai terasa ketika kita Lebaran, ketika sudah banyak orang yang menunda bahkan membatalkan karena harga tiket,” katanya.

Wisata Domestik Paling Rentan Terdampak

Meski pelemahan rupiah bisa membuat Indonesia lebih menarik bagi wisatawan asing, Anas menilai keuntungan tersebut belum cukup untuk menutup potensi penurunan wisatawan domestik.

Padahal, wisatawan domestik selama ini menjadi salah satu tulang punggung pariwisata nasional, termasuk di Sulawesi Selatan.

“Kalau secara keseluruhan para wisata itu tentu menguntungkan selama kita bisa tetap mempertahankan wisatawan yang masuk atau bahkan mungkin menambah. Karena tentu wisatawan senang itu, karena semakin banyak dia bisa pegang rupiah,” jelasnya.

Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar, Abdul Muttalib Hamid, juga menilai industri penerbangan nasional sangat rentan terhadap pergerakan dolar.

Menurutnya, sekitar 70 persen komponen biaya maskapai dipengaruhi kurs dolar AS. Komponen itu mencakup avtur, sewa pesawat, perawatan, suku cadang, hingga asuransi penerbangan.

“Ketika rupiah terdepresiasi sekitar 10 persen, harga tiket pesawat secara teoritis dapat terdorong naik sekitar 7 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kurs dolar bukan sekadar isu makroekonomi, tetapi langsung memengaruhi biaya mobilitas masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagian besar pendapatan maskapai domestik diperoleh dalam rupiah. Namun, banyak beban operasional harus dibayar menggunakan dolar AS. Ketimpangan ini membuat maskapai sulit menghindari kenaikan tarif.

“Dalam situasi tersebut, maskapai pada akhirnya akan menyesuaikan harga tiket untuk menjaga keberlanjutan usaha,” katanya.

Sulsel Bergantung pada Konektivitas Udara

Abdul Muttalib menilai Sulawesi Selatan termasuk daerah yang rentan terdampak karena struktur pariwisatanya masih sangat bergantung pada konektivitas udara. Makassar juga menjadi hub utama bagi Kawasan Timur Indonesia.

“Ketika harga tiket naik, maka biaya perjalanan menuju destinasi wisata di Sulsel ikut meningkat. Efek lanjutannya adalah penurunan minat perjalanan wisata, terutama wisata domestik antarpulau,” jelasnya.

Gejala perlambatan mulai terlihat dari perubahan pola perjalanan masyarakat. Banyak wisatawan memilih mempersingkat durasi liburan, mengurangi frekuensi perjalanan, atau beralih ke destinasi yang lebih dekat dan murah.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan efek domino terhadap sektor ekonomi lain. Hotel, restoran, agen perjalanan, hingga UMKM pariwisata bisa ikut merasakan tekanan jika mobilitas wisatawan terus menurun.

“Ketika kunjungan wisata menurun, okupansi hotel ikut tertekan, restoran kehilangan pelanggan, agen perjalanan mengalami penurunan transaksi, dan omzet UMKM pariwisata ikut melemah,” katanya.

Pemerintah Didorong Siapkan Mitigasi

Abdul Muttalib mendorong pemerintah segera menyiapkan langkah mitigasi agar sektor pariwisata Sulsel tetap bergerak di tengah tekanan ekonomi global.

Menurutnya, penguatan wisata regional, promosi paket wisata hemat, integrasi transportasi darat dan laut, hingga pengembangan destinasi berbasis komunitas perlu diperkuat.

“Promosi paket wisata hemat, integrasi transportasi darat dan laut, serta penguatan destinasi berbasis komunitas menjadi strategi penting untuk menjaga arus wisata tetap bergerak,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu menjaga stabilitas harga avtur serta menciptakan kebijakan transportasi yang mampu menahan lonjakan biaya perjalanan masyarakat.

Sebab, jika mobilitas wisata terus melemah, dampaknya tidak hanya dirasakan maskapai penerbangan, tetapi juga seluruh rantai ekonomi daerah yang hidup dari sektor pariwisata.

“Pada akhirnya, pelemahan rupiah dan kenaikan tiket pesawat adalah kombinasi tekanan ekonomi yang nyata bagi industri wisata Sulawesi Selatan. Tantangannya bukan hanya menjaga jumlah wisatawan tetap datang, tetapi juga memastikan sektor pariwisata tetap mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tekanan global yang semakin tidak menentu,” imbuh Abdul Muttalib.

Bantuan Polisi

Bantuan Polisi Polrestabes Makassar

Peristiwa






Pengaduan BID PROPAM

Pengaduan BID PROPAM Polda Sulsel

Teknologi






Politik