Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Tekanan dari ketidakpastian ekonomi global, termasuk konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah, ikut mempengaruhi pergerakan mata uang Indonesia.
Rupiah Melemah ke Rp16.924 per Dolar AS
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (6/3/2026) pukul 10.56 WIB, rupiah tercatat melemah 19 poin atau sekitar 0,11 persen.
Nilai tukar rupiah berada di level Rp16.924 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, salah satunya dipicu oleh konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memanas dalam beberapa waktu terakhir.
Situasi geopolitik tersebut membuat pasar keuangan global cenderung berhati-hati, sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.
Cadangan Devisa Indonesia Turun
Pelemahan rupiah juga terjadi bersamaan dengan penurunan cadangan devisa Indonesia.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny, menyampaikan bahwa cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tercatat sebesar USD151,9 miliar.
Angka tersebut menurun dibandingkan posisi akhir Januari 2026 yang mencapai USD154,6 miliar.
“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tetap tinggi sebesar 151,9 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan posisi pada akhir Januari 2026 sebesar 154,6 miliar dolar AS,” kata Ramdan.
Dipengaruhi Pembayaran Utang Luar Negeri
Ramdan menjelaskan, perubahan posisi cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Di satu sisi terdapat penerimaan negara dari pajak serta jasa yang membantu menjaga cadangan devisa.
Namun di sisi lain, terdapat pembayaran kewajiban utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia.
Kebijakan stabilisasi tersebut dilakukan di tengah kondisi pasar keuangan global yang masih diliputi ketidakpastian tinggi.
Cadangan Devisa Masih Aman
Meski mengalami penurunan, Bank Indonesia menilai posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang cukup kuat.
Cadangan devisa tersebut dinilai masih mampu mendukung stabilitas sistem keuangan serta memenuhi kebutuhan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.


