News

Makassar: Bertahan di Tengah Tekanan, Menguat Diterjang Krisis

Ada kota yang ketika berhadapan dengan masalah nasional, sibuk mencari alasan. Ada pula kota yang memilih mencari cara.

Makassar tampaknya sedang menunjukkan dirinya berada pada kelompok kedua.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah kota menghadapi tantangan yang tidak ringan, El Nino, tekanan energi, perubahan harga dan daya beli, hingga pemotongan Transfer ke Daerah (TKD). Masalahnya datang hampir bersamaan, sementara kebutuhan masyarakat tidak pernah ikut dipotong.

Di sinilah menariknya Makassar. Sebagai kota metropolitan, problemnya memang berbeda dan dalam banyak hal lebih kompleks dibanding banyak kota lain. Kemacetan, kepadatan penduduk, kebutuhan layanan publik yang tinggi, tekanan ekonomi perkotaan, persoalan lingkungan, hingga tuntutan masyarakat yang semakin kritis berjalan bersamaan.

Kota besar tidak punya kemewahan untuk mengatakan, “kita sedang krisis, jadi maklum kalau pelayanan turun.” Justru semakin besar kotanya, semakin kecil ruang untuk membuat alasan.

Satirenya sederhana, krisis boleh datang, tetapi pemerintah tidak boleh ikut panik. El Nino tidak bisa diajak rapat, harga energi tidak bisa dinegosiasikan lewat musyawarah, dan TKD yang dipotong tentu tidak bisa disuruh kembali hanya karena pemerintah daerah mengeluh.

Syukuran 11 Tahun Berlalu, Jejak Kemanusiaan Aviastar Kembali Mempertemukan Adex Yudiswan dan Warga Gamaru

Data BPS memberikan cerita yang lebih menarik. Di tengah krisis itu, pada 2025, pertumbuhan tetap positif dan bergerak dari 4,53 persen pada triwulan pertama, 5,08 persen pada triwulan kedua, 5,39 persen pada triwulan ketiga, hingga 6,27 persen pada triwulan keempat.

Artinya, ketika berbagai tekanan datang dari luar, mesin ekonomi Makassar tidak berhenti. Bahkan pada penghujung 2025, lajunya justru menguat.

Dalam kasus antrean BBM di SPBU, sebenarnya sudah menggambarkan pertumbuhan kencang itu. Meski Pertamina mengaku sudah menambah stok, tetapi kebutuhan energi untuk distribusi dan lalu lintas memang tinggi oleh karena laju pertumbuhan tinggi itu.

Karena itu, kemampuan Makassar menjaga stabilitas di tengah berbagai tekanan patut dilihat bukan semata sebagai keberuntungan. Ada faktor kepemimpinan yang kuat, tetapi juga ada faktor yang sering luput dibicarakan, manajemen tim pemerintahan.

Pemimpin yang kuat tanpa tim yang bekerja hanya akan menghasilkan pidato yang kuat. Sebaliknya, tim yang hebat tanpa arah kepemimpinan akan sibuk bergerak tetapi belum tentu sampai tujuan.
Kuncinya ada pada kombinasi keduanya, arah yang jelas, koordinasi yang disiplin, kemampuan membaca masalah, serta keberanian mengambil keputusan.

Taruna Ikrar Ungkap Strategi Baru BPOM Menuju 2045

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemerintahan bukanlah seberapa sering ia mengatakan bahwa situasi sedang sulit. Ukuran sebenarnya adalah seberapa baik masyarakat tetap merasakan pelayanan ketika situasi memang sedang sulit.

Sebab dalam pemerintahan, krisis bukan alasan untuk berhenti bekerja. Krisis justru ujian untuk membuktikan apakah mesin pemerintahan benar-benar bekerja.
#nurmalMIND

Bantuan Polisi

Bantuan Polisi Polrestabes Makassar

Peristiwa






Pengaduan BID PROPAM

Pengaduan BID PROPAM Polda Sulsel

Teknologi






Politik