Kelangkaan BBM jenis Bio Solar di Sulawesi Selatan memicu antrean panjang kendaraan, terutama truk logistik. Antrean bahkan dilaporkan mengular hingga melewati perbatasan Parepare dan Pinrang.
Di sejumlah SPBU, petugas terlihat kewalahan melayani pengisian BBM. Bahkan, beberapa sopir ikut membantu proses pengisian karena panjangnya antrean.
Sopir Terpaksa Pinjam Solar Demi Jalan
Salah satu sopir truk, Boci, mengaku sudah mengantre sejak Minggu (19/4) malam. Ia bahkan harus meminjam solar dari rekannya agar tetap bisa menggerakkan kendaraan.
“Bagaimana mau makan sopirnya kalau tidak pergi mengangkut? Tidak ada solar. Terpaksa pinjam solar,” ujarnya.
Ia juga mengeluhkan dugaan praktik pelangsiran yang memperparah kelangkaan.
“Banyak pelangsir. Itu SPBU (diduga) terima sogokan. Ada yang isi jeriken sampai 30. Kami sopir truk jadi tidak kebagian,” katanya.
Distribusi Barang Tersendat
Keluhan serupa disampaikan sopir lain, Haeruddin. Ia mengaku harus menunggu lebih dari 24 jam hanya untuk mendapatkan solar.
“Mulai dari kemarin jam 1 siang menunggu. Tidak ada solar, mobil tidak bisa jalan,” ungkapnya.
Akibat kondisi ini, distribusi barang pun ikut terganggu.
“Terpaksa terlambat kirim barang karena tidak ada BBM,” tambahnya.
Bahkan setelah antre lama, pengisian BBM dibatasi.
“Tadi cuma dapat 100 liter, tidak sampai satu barcode,” jelasnya.
Kelangkaan Merata di Sulsel
Sopir lainnya, Irfan Yasir, menyebut kelangkaan solar terjadi hampir di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
“Dari Sidrap, Makassar, sampai Palopo, semua langka,” katanya.
Meski begitu, harga solar di SPBU masih terpantau normal. Masalah utama adalah keterbatasan stok yang membuat antrean panjang tidak terhindarkan.
Ancaman Serius bagi Logistik
Kelangkaan solar ini berpotensi menimbulkan dampak serius, seperti:
- Terhambatnya distribusi barang
- Kenaikan biaya logistik
- Risiko kenaikan harga kebutuhan pokok
Jika kondisi ini terus berlanjut, sektor transportasi dan ekonomi di Sulawesi Selatan bisa ikut terdampak luas.


