Suasana pengkaderan yang seharusnya menjadi wadah kebersamaan dan proses belajar, justru berubah jadi sorotan publik. Rekaman dan percakapan digital yang beredar di media sosial memperlihatkan dugaan praktik perpeloncoan disertai kekerasan fisik di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin, Makassar.
Dalam unggahan akun Instagram @unhas.distopia, tampak mahasiswa baru mendapat bentakan, intimidasi, bahkan perlakuan fisik. Narasi yang menyertai rekaman itu menyinggung bagaimana organisasi kampus yang mestinya berasas kekeluargaan justru menjadi ruang senioritas.
Kepala Subdirektorat Humas Unhas, Ishaq Rahman, mengonfirmasi pihak fakultas telah menelusuri kasus ini. Dugaan kekerasan disebut dialami mahasiswa angkatan 2025, berlangsung antara September 2025 hingga Maret 2026. “Meskipun peristiwa itu sudah lama, pihak FMIPA berkomitmen menangani kasus ini secara serius,” ujarnya.
Dekan FMIPA Unhas langsung membentuk tim khusus untuk menginvestigasi dugaan kekerasan. Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) Unhas juga turun tangan setelah menerima laporan resmi dari korban. Identitas terlapor belum diumumkan karena proses klarifikasi masih berjalan.
Unhas menegaskan tidak menolerir segala bentuk kekerasan di lingkungan kampus. Rektor memberi atensi khusus dan menginstruksikan investigasi menyeluruh. “Tidak ada kompromi untuk praktik-praktik seperti ini. Setiap pelaku kekerasan akan diberikan sanksi tegas,” tegas Ishaq.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa tradisi pengaderan yang masih dibalut senioritas harus segera diakhiri. Kampus dituntut memastikan ruang belajar tetap aman, tanpa intimidasi, tanpa kekerasan.


