MAKASSAR – Ayyub Ringgong (59) tinggal seorang diri di rumah panggung yang nyaris roboh di Jalan Abubakar Lambogo Lorong 21, Kelurahan Bara-Baraya Timur, Kecamatan Makassar, Kota Makassar. Meski kondisi rumahnya memprihatinkan, ia tak bisa mendapatkan bantuan karena tercatat berada pada desil 6-10 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Rumah panggung Ayyub berdiri tersambung dengan bagian belakang rumah warga lain. Untuk masuk, ia harus melewati jalan kecil di samping rumah tersebut. Konstruksi kayu bangunan itu sudah tidak tegak lagi. Tiang-tiang penyangga reyot, balok melintang tak simetris, papan lantai terkelupas, dan sejumlah bagian atap bocor atau lowong karena tidak tertutup seng.
Kondisi itu tak serta-merta membuat Ayyub masuk kelompok penerima bantuan. Hasil pengecekan pada portal Cek Desil Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (30/9/2026), menunjukkan ia berada di desil 6-10 dengan periode data 12 Juli 2026. Regulasi pemerintah menempatkan penerima bantuan pada kelompok desil 1-5. Karena itu, Ayyub dianggap masyarakat mampu dan tidak masuk daftar penerima.
Ayyub mengaku tidak pernah menerima bantuan dan baru mengetahui sistem desil tersebut. “Apa itu desil, bagaimana orang dimasukkan di situ,” ucapnya.
Ia sudah tidak bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Di masa produktif, Ayyub bekerja sebagai buruh harian. Namun, sejak pandemi Covid-19 dan diperparah serangan stroke, ia berhenti bekerja. Kesehariannya kini dihabiskan di rumah. Ia duduk, berdiri, atau berjalan di sekitar lingkungan rumah. Ia harus selalu bergerak karena kram pada lengan dan kaki akibat stroke terus membuntuti. “Kram terasa ini kaki, tangan kaku, harus bergerak,” ucapnya sambil menggerakkan tangan dan kakinya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ayyub bergantung pada kiriman dua anak lelakinya yang telah berkeluarga. Istrinya telah lama meninggal. “Kirim beras, mi, uang, biasa langsung dikirim, biasa saya yang minta,” ucapnya.
Ayyub berharap pengelompokan data desil sesuai kenyataan. Ia juga ingin informasi tentang pengelompokan itu disampaikan kepadanya. Ia berharap status sosial ekonominya segera disesuaikan, terutama untuk mendapatkan bantuan sosial dan bantuan rumah layak.
Ketua RW di Bara-Baraya Timur, Ainus Ballohe, mengatakan pihaknya telah mengawal pengusulan perubahan data desil Ayyub sejak Februari 2026. Namun, pada pengecekan terbaru, desilnya masih 6-10. Ia berharap ada kebijakan pemerintah terhadap kondisi warganya. “Harapan kami desil bisa sesuai, bisa membuat warga kami layak dapat bantuan,” ucapnya.
Ainus menilai persoalan desil sangat penting karena sebagian besar bantuan pemerintah merujuk pada data itu untuk menentukan penerima. “Bagaimana kita mau usulkan bantuan, kalau persyaratannya itu desil 1-4, sementara Pak Ayyub desil di atasnya,” ucapnya.
Kepala Bidang Jaminan dan Perlindungan Sosial Dinas Sosial Kota Makassar, Kaharuddin Bakti, mengatakan desil yang belum sesuai harapan atau kenyataan dapat diusulkan lagi. Menurutnya, sistem pengusulan desil saat ini melalui musyawarah kelurahan, lalu diunggah operator Dinas Sosial di kelurahan melalui portal SIKS-NG. Data itu diverifikasi pemerintah kota dan diusulkan ke Pusdatin Kementerian Sosial. Setelah dari Kementerian Sosial, pengusulan diverifikasi terakhir oleh BPS.
“Nanti terakhir di BPS, menghitung ulang berdasarkan indikator yang ada. Berapa skornya. Dalam pengusulan perubahan data di kelurahan itu sendiri ada 44 pertanyaan,” jelasnya.
Kaharuddin menyebut seluruh proses itu membutuhkan waktu tiga bulan. BPS kemudian merilis pembaruan terbaru seluruh perubahan data yang diajukan. Jika merasa belum sesuai, warga dapat mengajukan penyanggahan. “Mungkin masih ada data-data yang belum sesuai yang dimasukkan, karena banyak yang dipertimbangkan, seperti rekening listrik, jumlah kendaraan, kredit uang, penghasilan semua orang dalam satu kartu keluarga, dan lain-lain. Itu semua yang dicek kesesuaiannya,” jelasnya.
Di balik rumah panggung yang nyaris roboh, Ayyub hanya bisa berharap data yang menempel pada namanya segera diperbarui. Bagi warga seperti dia, perubahan status desil bukan sekadar angka, melainkan pintu untuk mendapatkan bantuan sosial dan tempat tinggal yang layak.


