Wajah salah satu ikon wisata Kota Parepare, Monumen Cinta Habibie-Ainun di kawasan Alun-alun Andi Makkasau, menjadi sorotan. Selain terlihat kurang terawat, kawasan tersebut juga dipenuhi sampah dan masih dijadikan tempat beraktivitas anak jalanan.
Pantauan di lokasi, Senin (20/7/2026) pagi, menunjukkan kondisi monumen tidak lagi seindah biasanya. Dinding pembatas kolam tampak kusam dengan lumut yang mulai menutupi sebagian permukaan keramik bermotif batu. Di beberapa sudut kawasan, sampah plastik berupa botol minuman dan bungkus makanan juga terlihat berserakan.
Pemandangan lain yang menarik perhatian adalah keberadaan seorang anak jalanan yang tertidur di depan area kolam monumen. Kondisi itu dinilai mengurangi kenyamanan pengunjung sekaligus mengganggu estetika salah satu destinasi favorit di Kota Parepare.
Monumen yang berada di Jalan Kareang Burane, Kelurahan Mallusetasi, Kecamatan Ujung, tersebut dikenal sebagai simbol kisah cinta Presiden ke-3 RI BJ Habibie dan istrinya, Hasri Ainun Habibie. Sejak diresmikan pada 2015, lokasi itu menjadi salah satu tujuan wisata sekaligus tempat favorit masyarakat untuk berfoto.
Salah seorang pengunjung, Rahmi, mengaku mengurungkan niatnya berfoto bersama keluarga setelah melihat kondisi kawasan monumen yang dinilai kurang terawat.
Perempuan yang baru tiba dari Samarinda, Kalimantan Timur, itu awalnya ingin mengabadikan momen sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Bone.
“Dari Samarinda mau ke Bone. Iya ini, tadi mau foto sama keluarga, tapi kondisinya kotor, jadi batal,” ujarnya.
Rahmi berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap kebersihan kawasan tersebut. Ia juga meminta keberadaan anak jalanan di sekitar monumen segera ditangani.
“Harusnya anak-anak ini ditertibkan. Kalau di Samarinda mereka ditempatkan di Dinas Sosial, jadi tidak tidur di jalan,” katanya.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Sosial Kota Parepare, Andi Erwin Pallawarukka, mengakui anak jalanan di sejumlah ruang publik masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.
Menurutnya, Dinas Sosial terus melakukan pendataan dan penanganan terhadap anak jalanan yang berada di kawasan pusat kota, termasuk di Alun-alun Andi Makkasau.
“Terima kasih teman-teman sudah melaporkan ini. Memang harus diakui masih banyak anak jalanan berada di ruang publik yang mengganggu estetika kota. Ini menjadi perhatian kami,” ucap Erwin.
Ia menjelaskan, hasil pendataan menunjukkan sebagian besar anak jalanan yang berada di Parepare bukan merupakan warga setempat. Mereka datang dari sejumlah daerah di sekitar Parepare dan jumlahnya meningkat pada waktu-waktu tertentu.
“Memang sifatnya musiman. Berdasarkan pendataan kami, banyak yang berasal dari Sidrap, Pinrang, sampai Makassar, kemudian masuk ke Parepare. Ini memang lagi musimnya,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Dinas Sosial akan berkoordinasi dengan Satpol PP untuk melakukan penertiban. Anak jalanan asal Parepare akan dibina melalui rumah singgah milik pemerintah, sedangkan mereka yang berasal dari luar daerah akan dipulangkan ke daerah asalnya.
“Kami akan berkoordinasi dengan Satpol PP untuk penertiban. Kami memiliki rumah singgah untuk menampung mereka. Kalau warga Parepare akan dibina, sedangkan yang berasal dari luar daerah akan dipulangkan,” pungkasnya.


