Krisis air bersih mulai dirasakan warga Kota Parepare, Sulawesi Selatan, seiring musim kemarau ekstrem yang menyebabkan debit sumber air baku terus menyusut. Di sejumlah kawasan, warga bahkan harus berjalan menanjak sambil membawa jeriken untuk mendapatkan air karena pasokan dari jaringan PAM terhenti selama beberapa hari.
Kondisi tersebut dipastikan berdampak pada produksi air bersih PAM Tirta Karajae. Penurunan debit air baku membuat kapasitas produksi turun hampir separuh dibandingkan kondisi normal.
Direktur PAM Tirta Karajae Parepare, Abdul Azis, mengatakan saat musim normal produksi air mencapai 120 hingga 130 liter per detik. Namun, akibat kemarau berkepanjangan, kapasitasnya kini diperkirakan hanya berkisar 60 hingga 80 liter per detik.
“Kondisi air PDAM yang kita lihat ini sangat menurun akibat pengaruh musim sekarang yang sangat ekstrem. Sehingga berdampak pada pendistribusian dan pengolahan air bersih di Kota Parepare, khususnya yang terlayani sumber air permukaan,” ujar Azis, Senin (3/8/2026).
Mengantisipasi semakin meluasnya dampak kekurangan air, PAM Tirta Karajae menyiapkan skema distribusi bergilir. Sistem tersebut akan diterapkan apabila kondisi cuaca tidak kunjung membaik dalam beberapa hari ke depan.
Melalui pola itu, aliran air akan dihentikan sementara di satu kawasan agar pasokan dapat dialihkan ke wilayah lain yang juga mengalami kekurangan air.
“Kalau cuaca bertahan seperti ini, besar kemungkinan dilakukan penggiliran untuk daerah-daerah tertentu. Pada jam-jam tertentu kami matikan di satu wilayah, kemudian distribusikan ke yang lain,” jelasnya.
Selain penggiliran distribusi, perusahaan daerah tersebut juga menyiagakan armada mobil tangki untuk memasok air bersih ke permukiman yang mengalami kesulitan paling parah, terutama kawasan yang berada di wilayah perbukitan.
Menurut Azis, pihaknya masih memetakan wilayah yang terdampak karena jaringan distribusi air di Parepare saling terhubung sehingga penurunan debit dapat memengaruhi sejumlah kawasan sekaligus.
“Kalau terkait jumlah kecamatan itu belum bisa kita data. Karena kita punya pipa itu interkoneksi. Memang pasti ada wilayah yang terdampak, tetapi masih kami upayakan tetap terlayani,” katanya.
Sementara itu, dampak krisis air sudah dirasakan langsung oleh warga. Nurhalimah, salah seorang warga Parepare, mengaku keluarganya sudah tiga hari tidak mendapat pasokan air bersih sehingga terpaksa menumpang mandi di rumah kerabat.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bersama anak-anaknya harus berjalan sekitar 20 menit melewati jalan menanjak dan berbukit sambil membawa jeriken air.
“Sudah tiga hari air tidak mengalir. Mengungsi mandi di rumahnya Mama,” ujar Nurhalimah.
Kondisi tersebut bahkan memengaruhi aktivitas keluarga. Selain harus mencari sumber air di tempat lain, anak-anaknya terpaksa tidak bersekolah karena tidak bisa mandi sebelum berangkat.
Pemkot Parepare bersama PAM Tirta Karajae kini terus memantau perkembangan musim kemarau sembari menyiapkan langkah-langkah darurat agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap dapat terpenuhi.


