Ekonomi

IHSG Berbalik Menguat, Investor Cermati Transisi Kepemimpinan Bank Indonesia

IHSG Berbalik Menguat, Investor Cermati Transisi Kepemimpinan Bank Indonesia
IHSG Berbalik Menguat, Investor Cermati Transisi Kepemimpinan Bank Indonesia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali ke zona hijau pada perdagangan Selasa (28/7/2026) setelah sempat dibuka melemah. Pergerakan pasar masih dipengaruhi sikap hati-hati investor yang mencermati pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) serta sejumlah sentimen global.

Berdasarkan data RTI Business hingga pukul 09.47 WIB, IHSG menguat tipis 0,937 poin atau 0,02 persen ke level 6.186,721. Sebelumnya, indeks dibuka di posisi 6.175,198 dan sempat turun hingga menyentuh level terendah 6.146,280.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan fokus utama pelaku pasar saat ini masih tertuju pada proses transisi kepemimpinan Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI.

Menurutnya, perubahan kepemimpinan bank sentral menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kredibilitas dan kesinambungan kebijakan moneter nasional.

“Transisi kepemimpinan Bank Indonesia masih menjadi faktor utama yang dicermati investor karena pengunduran diri Gubernur BI memang sempat memicu sikap wait and see. Pasar sangat sensitif terhadap kredibilitas dan kesinambungan kebijakan moneter,” ujar Nafan.

BSU Rp900.000 Belum Cair, Pemerintah Masih Susun Aturan Teknis

Danantara Belum Jadi Penggerak Pasar

Nafan menilai rencana pelibatan Danantara dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) belum memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan IHSG.

Menurutnya, pasar masih menunggu kejelasan mengenai implementasi kebijakan, kewenangan, hingga dampaknya terhadap tata kelola sektor keuangan.

Sebelumnya, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan lembaganya akan dilibatkan dalam rapat KSSK berdasarkan hasil rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat efektivitas kebijakan stabilitas sistem keuangan terhadap dunia usaha.

Faktor Global Masih Dominan

Sementara itu, Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, menilai tekanan terhadap pasar domestik saat ini lebih banyak berasal dari faktor eksternal.

Ia menjelaskan investor asing memanfaatkan momentum akhir bulan untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah IHSG mencatat tren penguatan dalam beberapa waktu terakhir.

Harga Emas Antam Hari ini Turun Rp10.000 per Gram, Buyback Ikut Melemah

Selain itu, pelaku pasar juga menanti hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Juli 2026.

Di sisi lain, tingginya harga minyak dunia turut menjadi perhatian investor karena dinilai dapat memengaruhi inflasi dan kebutuhan devisa Indonesia.

Rupiah Dipengaruhi Permintaan Dolar

Gunarto juga menyoroti pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung melemah akibat meningkatnya permintaan dolar Amerika Serikat menjelang akhir bulan.

Menurutnya, kebutuhan valuta asing dari kalangan importir, terutama sektor energi, meningkat seiring kenaikan harga minyak dunia sepanjang Juli dibandingkan bulan sebelumnya.

Kombinasi aksi ambil untung investor asing, penantian keputusan The Fed, tingginya harga minyak, serta meningkatnya kebutuhan dolar menjadi faktor yang mewarnai pergerakan pasar keuangan domestik pada awal perdagangan hari ini.

Prabowo Peringatkan Ekonomi Nasional, Utang Pinjol Warga RI Cetak Rekor

Bantuan Polisi

Bantuan Polisi Polrestabes Makassar

Peristiwa






Pengaduan BID PROPAM

Pengaduan BID PROPAM Polda Sulsel

Teknologi






Politik