PT PLN (Persero) menyiapkan langkah strategis untuk menekan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM), di tengah tren kenaikan harga energi global yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk perang di Iran.
Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah mengganti ribuan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan listrik, khususnya di wilayah terpencil.
741 Lokasi PLTD Akan Diganti
Direktur Utama Darmawan Prasodjo mengungkapkan, total PLTD yang akan digantikan tersebar di 741 lokasi di seluruh Indonesia.
Kapasitas pembangkit yang akan ditransformasi mencapai 1.076,04 megawatt (MW), atau setara dengan 2.396 unit PLTD.
Menurutnya, setiap lokasi akan dikaji potensi energi lokalnya terlebih dahulu.
“Kalau tersedia potensi mikrohidro, tentu itu akan dimanfaatkan. Jika tidak ada, maka akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi,” jelasnya dalam paparan kepada DPR.
PLTS dan BESS Jadi Andalan Baru
Sebagai pengganti PLTD, PLN akan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas mencapai 3,21 gigawatt peak (GWp).
PLTS tersebut akan dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 9,03 gigawatt hour (GWh), guna memastikan pasokan listrik tetap stabil.
Kombinasi ini dinilai menjadi solusi efektif, terutama di daerah yang sebelumnya sangat bergantung pada PLTD berbahan bakar BBM.
Dengan adanya sistem baterai, listrik tetap dapat disuplai meskipun produksi energi surya tidak berlangsung sepanjang waktu.
Tekan Biaya dan Kurangi Impor Energi
Program ini merupakan bagian dari strategi besar PLN untuk mengurangi penggunaan BBM yang selama ini tidak hanya mahal, tetapi juga bergantung pada impor.
Selain meningkatkan ketahanan energi nasional (energy security), langkah ini juga diyakini mampu menekan biaya produksi listrik dalam jangka panjang.
PLN menargetkan transisi ini berjalan cepat melalui skema kemitraan yang transparan.
“Penggunaan energi berbasis impor dan mahal seperti BBM harus segera dikurangi, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Bukan hanya ketahanan energi yang meningkat, tetapi biaya juga bisa lebih rendah,” tegas Darmawan.


