Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, melonjak tajam seiring maraknya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Dalam sepekan terakhir, jumlah kasus naik dari 881 menjadi 934.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Parepare, Muhammad Idris, menyebut kenaikan itu terjadi pada minggu ke-40 atau periode 4-10 Oktober 2026. Sebelumnya, pada minggu ke-39 atau 27 September-3 Oktober, tercatat 881 kasus. “Data tersebut menunjukkan peningkatan ISPA pada minggu terakhir, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa kenaikan tersebut disebabkan langsung oleh kabut asap,” kata Idris, Jumat (16/10/2026).
Meski begitu, secara akumulatif sepanjang 2026, lonjakan ISPA di Parepare jauh lebih besar. Periode minggu ke-1 hingga ke-38 tahun ini mencatat 28.793 kasus, melonjak 265 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang hanya 7.875 kasus.
Idris menilai buruknya kualitas udara akibat kabut asap karhutla menjadi perhatian serius pemerintah setempat. Warga diminta tidak mengabaikan imbauan pencegahan. “Parepare kedatangan kabut asap karhutla, kualitas udara memburuk. Tetap waspada dan lindungi diri serta keluarga dari paparan kabut asap,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat peka terhadap perubahan kondisi fisik keluarga dan segera ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala gangguan pernapasan. Gejala ISPA meliputi batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, dan sesak napas. “Jika mengalami sesak napas, gejala memburuk, atau anak dan lansia mengalami keluhan, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan,” imbaunya.
Selain penanganan medis, Idris merinci langkah proteksi diri yang harus diterapkan disiplin. Protokol kesehatan dasar menjadi benteng utama dari bahaya polusi udara. “Gunakan masker saat berada di luar rumah, terutama ketika udara berasap. Kurangi aktivitas di luar ruangan dan hindari olahraga di luar saat kualitas udara buruk,” jelasnya.
Dokter Ahli Paru RSUD Andi Makkasau Parepare, dr Nevy Shinta Damayanti, mengungkapkan kabut asap memicu lonjakan kasus ISPA. Ia menyoroti perubahan masa penyembuhan pasien yang kini lebih lama dari biasanya. “Yang biasanya ISPA itu kita obati paling tiga hari sudah respons dengan pengobatan, tapi ini sampai kontrol dua kali, tiga kali masih dengan keluhan yang sama,” ujarnya.
Menurut Nevy, kondisi itu dipicu kabut asap kiriman dari luar wilayah serta paparan udara kering musim kemarau. Faktor perilaku juga memperburuk, seperti tidak memakai masker dan kurang mengonsumsi air putih hingga dehidrasi. “Faktor di luar kita atau lingkungan itu sangat mempengaruhi. Kemudian faktor juga perilaku,” jelasnya.
Dengan lonjakan 265 persen secara akumulatif dan masa penyembuhan yang lebih panjang, kabut asap bukan lagi sekadar gangguan jarak pandang. Pemerintah dan warga dituntut bergerak bersama: memperkuat protokol kesehatan, mengurangi paparan, dan segera mencari pertolongan medis saat gejala memburuk.


