PALU – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah.
Berdasarkan laporan sementara hingga Rabu (17/6/2026) pukul 04.00 Wita, satu warga dilaporkan meninggal dunia, 76 orang mengalami luka-luka, dan sedikitnya 1.254 rumah rusak.
Kerusakan dan korban gempa tersebar di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, hingga Poso.
“Untuk korban meninggal dunia terdata saat ini satu orang di Kabupaten Sigi,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, Rabu (17/6/2026).
BNPB juga mencatat sebanyak 1.834 kepala keluarga atau sekitar 5.784 jiwa terdampak. Masyarakat terdampak merupakan warga yang merasakan atau terpapar langsung dampak gempa.
Dari total korban luka, sebanyak 73 orang mengalami luka ringan dan tiga lainnya luka berat.
“Luka berat ini berkaitan dengan cedera tulang atau luka akibat runtuhan struktur bangunan,” ujar Abdul Muhari.
Kerusakan paling banyak ditemukan di Kabupaten Sigi. Data sementara menunjukkan 1.074 rumah rusak ringan, 110 rumah rusak sedang, dan 30 rumah rusak berat.
Selain rumah warga, sebanyak 33 fasilitas ibadah, empat bangunan perkantoran, dua sekolah, dan satu jembatan juga terdampak.
Menurut Abdul Muhari, fasilitas ibadah yang terdampak umumnya mengalami keretakan dinding, dinding roboh, serta kerusakan pada bagian struktur maupun nonstruktur bangunan.
Di Kota Palu, sebanyak 20 rumah dilaporkan terdampak. Tingkat kerusakannya masih dalam proses pendataan dan verifikasi.
Gempa juga merusak satu fasilitas umum, satu tempat usaha, satu hotel, serta menyebabkan keretakan pada titik persambungan Jembatan III. Jembatan tersebut masih dapat digunakan secara terbatas.
Sementara itu, lima rumah terdampak di Kabupaten Poso. Tiga di antaranya mengalami kerusakan ringan. Gempa juga menyebabkan satu ruas jalan desa amblas dan mengalami keretakan cukup signifikan.
Di Kabupaten Parigi Moutong, sebanyak 15 rumah dilaporkan rusak. Tingkat kerusakannya masih diverifikasi oleh petugas di lapangan.
BNPB memastikan pemerintah akan memberikan dukungan untuk perbaikan rumah warga sesuai tingkat kerusakannya.
Bantuan yang disiapkan sebesar Rp15 juta untuk rumah rusak ringan, Rp30 juta untuk rumah rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rumah rusak berat. Pemerintah juga dapat membangunkan rumah baru bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
Selain permukiman, gempa turut berdampak pada infrastruktur penting. Jalan provinsi yang menghubungkan Palu, Sigi, dan Poso dilaporkan amblas sehingga sementara tidak dapat dilalui.
Kondisi tersebut menghambat jalur utama transportasi dan distribusi logistik. BNPB tengah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Sulawesi Tengah untuk menyiapkan jalur alternatif.
Layanan kesehatan juga sempat terganggu. Pasien Rumah Sakit Anutapura Palu dan RSUD Poso dievakuasi ke luar gedung sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan gempa susulan.
“Ini harus dilakukan karena durasi guncangan sangat terasa. Kami harus memastikan keselamatan pasien,” jelas Abdul Muhari.
Gempa M 6,7 terjadi pada Selasa (16/6/2026) pukul 11.27 Wita. Gempa yang dipicu aktivitas Sesar Sausu tersebut dipastikan tidak menimbulkan tsunami.
Namun, aktivitas gempa susulan masih terus berlangsung. Stasiun Geofisika BMKG Palu mencatat 466 kali gempa susulan hingga Rabu pukul 08.30 Wita.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 25 gempa susulan dirasakan masyarakat. Gempa susulan terbesar tercatat berkekuatan magnitudo 5,2, sedangkan yang terkecil magnitudo 1,3.
Sebaran gempa susulan masih terkonsentrasi di sekitar wilayah Sausu, Kabupaten Parigi Moutong.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulawesi Tengah, Andi Sembiring, mengatakan tren gempa susulan mulai mengalami penurunan. Namun, masyarakat tetap diminta waspada dan tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman.
“Meski tren gempa susulan mulai menurun, masyarakat tetap diminta waspada dan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan hingga dinyatakan aman,” ujarnya.


