TAKALAR – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Region 15 Makassar resmi menjalin kerja sama strategis dengan PT Siriman Jaya Abadi dalam mendukung pembiayaan nelayan mitra.
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) berlangsung di Dusun Mappakalompo, Desa Mappakalompo, Kecamatan Galesong, Kamis, 22 Januari 2026.
Kerja sama ini difokuskan pada pembiayaan supplier dan nelayan mitra PT Siriman Jaya Abadi, sebagai upaya memperkuat akses permodalan sektor perikanan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dari desa.

Regional CEO BRI Region 15 Makassar, D. Argo Prabowo, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada BRI. Menurutnya, sinergi ini menjadi langkah nyata perbankan dalam mendukung sektor riil, khususnya nelayan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT Siriman Jaya Abadi atas kepercayaan yang diberikan kepada BRI. Harapan kami, kerja sama ini dapat terus berkelanjutan dan berkembang, khususnya dalam pembiayaan kredit yang saling menguntungkan,” ujar Argo.
Ia menegaskan, BRI tidak hanya bekerja sama dengan PT Siriman Jaya Abadi, tetapi juga aktif mendukung UMKM dan pelaku usaha produktif lainnya melalui berbagai skema pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
Dalam kesempatan tersebut, dilakukan dua penandatanganan MoU, yakni:
MoU antara BRI dan Direksi PT Siriman Jaya Abadi, MoU antara BRI dan Nelayan Mitra PT Siriman Jaya Abadi.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan plakat dari BRI kepada PT Siriman Jaya Abadi sebagai simbol kerja sama.
Sementara itu, Direktur PT Siriman Jaya Abadi, H. Syamsuddin Daeng Siriwa, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia mengaku bersyukur atas dukungan pembiayaan dari BRI yang dinilai sangat membantu operasional nelayan mitra.
“Dengan adanya kerja sama ini, kami tidak lagi bergantung pada pembiayaan pihak swasta. BRI memberikan solusi yang lebih jelas dan berkelanjutan bagi nelayan kami,” ungkap Syamsuddin.
Ia menjelaskan, PT Siriman Jaya Abadi yang berdiri sejak tahun 2001 saat ini membina sekitar 400 kapal nelayan dalam kelompok, dengan fokus ekspor telur ikan hasil perikanan ke China, Korea, dan Jepang. Target ekspor perusahaan mencapai dua kontainer berkapasitas 20 ton setiap bulan.
Syamsuddin juga menyoroti kendala utama nelayan selama ini, yakni ketersediaan BBM subsidi. Dalam praktiknya, kebutuhan BBM satu kapal bisa mencapai 12 ton, sementara rekomendasi yang diberikan hanya 6 ton dari Dinas Perikanan dan Kelautan Takalar. Sehingga kerap menimbulkan hambatan saat melaut.
“Kami berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan BBM nelayan agar aktivitas melaut tidak terganggu,” ujarnya.
Melalui skema pembiayaan dari BRI, nelayan mitra mendapatkan dukungan modal untuk pembelian BBM, perlengkapan melaut, hingga operasional kapal, dengan nilai pembiayaan mencapai Rp400 juta per kapal untuk masa operasional sekitar sembilan bulan.
BRI menegaskan komitmennya dalam membangun ekonomi dari desa, dengan memberikan skema pembiayaan khusus bagi nelayan yang direkomendasikan oleh PT Siriman Jaya Abadi, termasuk suku bunga yang lebih kompetitif dibandingkan kredit umum.
Kerja sama ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan, memperkuat rantai ekspor perikanan, serta menjadi model sinergi berkelanjutan antara perbankan dan sektor kelautan.


