Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang sempat mengancam sektor pertanian di Sulawesi Selatan. Namun, ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Pangkep berhasil selamat dari ancaman gagal panen berkat pemanfaatan informasi peringatan dini iklim dari BMKG.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa petani di Pangkep menyesuaikan pola tanam dan varietas sesuai prediksi BMKG. “Mereka berhasil mencegah gagal panen untuk luas daerah signifikan, sekitar 7.067 hektare,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (22/9/2026).
Langkah adaptasi dilakukan melalui intensifikasi, ekstensifikasi, pompanisasi, serta penyesuaian kalender tanam. BMKG menilai strategi ini mampu menekan dampak kekeringan akibat El Nino.
Selain Pangkep, sejumlah daerah lain juga mulai beradaptasi dengan informasi iklim. BMKG menegaskan dampak kekeringan tahun ini lebih banyak dipicu El Nino, sementara pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) tidak terlalu signifikan.
BMKG mengingatkan daerah untuk bersiap menghadapi musim hujan. Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, memprediksi puncak hujan akan berlangsung padat dalam tiga bulan: Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027. Wilayah terdampak meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.


