Pengamat politik Arifki Chaniago menilai reshuffle yang dilakukan Presiden RI Prabowo Subianto pada Kamis (1/10) sebagai bagian dari konsolidasi pemerintahan menjelang akhir tahun ketiga. Menurutnya, terjadi perubahan terhadap sejumlah figur yang selama ini diasosiasikan dengan pemerintahan era Joko Widodo.
Salah satunya, Pratikno keluar dari posisi Menko PMK dan digantikan Sugiono yang sebelumnya menjabat Menteri Luar Negeri. “Kemudian Jenderal Listyo Sigit Prabowo tidak lagi menjadi Kapolri dan dipindahkan menjadi Kepala Staf Kepresidenan, sementara posisi Kapolri diberikan kepada Komjen Suyudi Ario Seto,” kata Arifki kepada awak media, Jumat (2/10).
Dia menuturkan reshuffle Prabowo pada 1 Oktober bisa diinterpretasikan sebagai upaya mengurangi pengaruh jejaring politik Jokowi. “Kalau kemudian muncul pembacaan bahwa ini merupakan upaya mengurangi pengaruh jejaring politik yang diasosiasikan dengan Jokowi, menurut saya itu masih harus ditempatkan sebagai interpretasi, bukan kesimpulan final,” lanjutnya.
Namun, kata Arifki, reshuffle tersebut menghasilkan perubahan kendali, terutama pada sosok yang menjabat Kapolri. “Ketika Listyo Sigit bergeser ke KSP, sementara kendali Polri berpindah kepada Suyudi, tentu terjadi perubahan konfigurasi kekuasaan yang signifikan,” ujarnya.
Hanya saja, menurut Arifki, Sigit tidak benar-benar dikeluarkan dari lingkar pemerintahan karena tetap diberikan posisi strategis sebagai Kepala Staf Kepresidenan. “Listyo Sigit sendiri menyebut penugasan itu sebagai sebuah kehormatan dan bentuk pengabdian,” katanya. Nasib Sigit yang berganti peran tak bisa sekadar dimaknai dicopot lalu disingkirkan. Hal itu lebih tepat dianggap sebagai pergeseran pusat peran. “Dari posisi sebagai pemegang komando institusi keamanan, Listyo kini ditempatkan di lingkungan inti Istana,” kata Arifki.
Arifki juga menyoroti pergantian Pratikno dari Menko PMK yang berstatus figur penting pemerintahan Jokowi. Menurut Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia itu, ada perubahan cukup nyata pada komposisi figur di level strategis pemerintahan. “Saya membaca reshuffle ini sebagai pesan bahwa memasuki fase kedua pemerintahannya, Prabowo ingin semakin memperkuat konfigurasi pemerintahan yang sesuai dengan agenda dan kebutuhan politik pemerintahannya sendiri,” ungkapnya.
Ia menilai terlalu dini mengatakan Geng Solo mulai disingkirkan menyikapi perubahan orang Jokowi di pemerintahan Prabowo. “Kalau pertanyaannya apakah terjadi pergeseran pengaruh dan konfigurasi kekuasaan dari era Jokowi menuju era Prabowo, saya kira indikasinya memang makin terlihat,” ujarnya.
Diketahui, Prabowo pada Kamis mereshuffle kabinet. Beberapa di antaranya, Prabowo menunjuk Sugiono sebagai Menko PMK, Dudung Abdurachman sebagai Menko Polkam, Arrmanatha Nasir sebagai Menlu, dan Sarmuji sebagai Menperin. Prabowo juga menunjuk Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP) hingga menunjuk Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri.
Reshuffle ini menjadi penanda baru konfigurasi pemerintahan Prabowo. Jika pembacaan Arifki benar, maka pergeseran pengaruh dari era Jokowi menuju era Prabowo bukan lagi sekadar wacana, melainkan indikasi yang makin terlihat dalam komposisi kabinet dan institusi keamanan.


