Banyak orang mengira rasa lelah hanya terjadi karena kurang tidur. Padahal, tidak sedikit orang yang sudah tidur 7 sampai 8 jam setiap malam, tetapi tetap bangun dalam kondisi lemas, tidak segar, dan sulit fokus menjalani aktivitas.
Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele, terutama bila terjadi berulang. Tubuh yang terus-menerus terasa lelah bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak seimbang, baik dari pola hidup, kualitas tidur, kondisi mental, hingga gangguan kesehatan tertentu.
Tidur cukup memang penting. Namun, tubuh tidak hanya membutuhkan durasi tidur yang panjang. Tubuh juga membutuhkan tidur yang berkualitas, asupan gizi yang baik, aktivitas fisik yang seimbang, serta kondisi kesehatan yang stabil.
Salah satu penyebab paling umum badan tetap lelah meski sudah tidur cukup adalah kualitas tidur yang buruk. Seseorang mungkin merasa sudah tidur lama, tetapi sebenarnya tidurnya sering terputus, tidak nyenyak, atau tidak masuk ke fase tidur dalam yang dibutuhkan tubuh untuk memulihkan energi.
Kualitas tidur yang buruk bisa dipengaruhi banyak hal, seperti kebiasaan bermain ponsel sebelum tidur, tidur terlalu larut, konsumsi kafein pada sore atau malam hari, stres, hingga kondisi kamar yang kurang nyaman. Akibatnya, tubuh tidak benar-benar pulih meski mata sudah terpejam berjam-jam.
Selain kualitas tidur, pola makan juga sangat berpengaruh. Tubuh membutuhkan energi dari makanan yang bergizi seimbang. Jika seseorang sering melewatkan sarapan, terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi gula, atau kurang mendapat asupan protein, vitamin, dan mineral, tubuh bisa lebih mudah lemas.
Makanan manis memang dapat memberi energi cepat. Namun, efeknya sering hanya sementara. Setelah kadar gula darah naik cepat, tubuh bisa mengalami penurunan energi yang membuat seseorang merasa mengantuk, lelah, dan sulit berkonsentrasi.
Kekurangan cairan juga dapat membuat tubuh terasa tidak bertenaga. Dehidrasi ringan saja bisa memengaruhi konsentrasi, suasana hati, dan stamina. Karena itu, kebiasaan minum air putih yang cukup tetap penting, terutama bagi orang yang banyak beraktivitas, sering berada di ruangan ber-AC, atau bekerja di luar ruangan.
Penyebab lain yang sering tidak disadari adalah kurang bergerak. Saat tubuh jarang digunakan untuk aktivitas fisik, stamina justru bisa menurun. Orang yang terlalu lama duduk atau minim olahraga sering merasa cepat lelah meski tidak melakukan pekerjaan berat.
Olahraga ringan seperti berjalan kaki, bersepeda santai, atau peregangan dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah, meningkatkan kebugaran, dan membuat tidur lebih berkualitas. Tidak perlu langsung olahraga berat. Yang penting dilakukan secara bertahap dan konsisten.
Faktor mental juga punya peran besar. Stres, kecemasan, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau beban pikiran yang berkepanjangan dapat membuat tubuh terasa lelah. Bahkan ketika seseorang tidur cukup, otak yang terus tegang membuat tubuh sulit benar-benar beristirahat.
Pada beberapa orang, rasa lelah berkepanjangan juga bisa berkaitan dengan depresi. Gejalanya tidak selalu berupa sedih terus-menerus. Ada juga yang merasa kehilangan semangat, sulit menikmati aktivitas, malas bergerak, tidur terlalu banyak atau justru sulit tidur, dan merasa tidak punya energi sepanjang hari.
Selain faktor gaya hidup dan psikologis, badan mudah lelah juga bisa menjadi tanda gangguan kesehatan. Beberapa kondisi yang sering berkaitan dengan keluhan ini antara lain anemia, gangguan tiroid, diabetes, tekanan darah rendah, gangguan hati atau ginjal, infeksi, hingga masalah jantung.
Anemia, misalnya, terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau hemoglobin. Akibatnya, pasokan oksigen ke jaringan tubuh berkurang. Kondisi ini dapat membuat seseorang mudah lelah, pucat, pusing, sesak saat beraktivitas, atau jantung terasa berdebar.
Gangguan tiroid juga dapat membuat tubuh terasa lemas. Bila hormon tiroid terlalu rendah, metabolisme tubuh melambat. Dampaknya, seseorang bisa merasa cepat lelah, berat badan naik, mudah kedinginan, kulit kering, dan suasana hati menurun.
Sementara pada penderita diabetes, rasa lelah bisa muncul karena tubuh tidak mampu menggunakan gula darah secara efektif sebagai sumber energi. Keluhan ini kadang disertai sering haus, sering buang air kecil, berat badan turun tanpa sebab jelas, atau luka yang sulit sembuh.
Rasa lelah yang muncul sesekali biasanya tidak berbahaya, terutama jika terjadi setelah aktivitas berat, kurang istirahat, atau sedang banyak pikiran. Namun, jika lelah berlangsung lama, muncul tanpa sebab jelas, atau mengganggu aktivitas harian, sebaiknya jangan diabaikan.
Segera periksa ke dokter bila rasa lelah disertai gejala lain seperti sesak napas, nyeri dada, pingsan, berat badan turun drastis, demam berkepanjangan, keringat malam, jantung berdebar, buang air kecil berlebihan, atau tubuh terasa sangat lemah meski sudah beristirahat.
Untuk mengatasinya, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memperbaiki pola hidup. Mulailah dengan tidur dan bangun pada jam yang konsisten, mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, membatasi kafein, memperbanyak air putih, makan bergizi seimbang, serta rutin bergerak.
Penting juga untuk mengelola stres. Luangkan waktu untuk beristirahat, beribadah, berbicara dengan orang terdekat, atau melakukan aktivitas yang membuat pikiran lebih tenang. Tubuh dan pikiran saling terhubung. Ketika pikiran terus tertekan, tubuh pun bisa ikut kehabisan tenaga.
Jika perubahan pola hidup sudah dilakukan tetapi badan tetap mudah lelah, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebab pastinya. Dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan darah, kadar gula darah, fungsi tiroid, atau pemeriksaan lain sesuai keluhan.
Pada akhirnya, rasa lelah adalah bahasa tubuh. Ia bisa menjadi tanda bahwa tubuh hanya butuh istirahat, tetapi juga bisa menjadi sinyal adanya gangguan yang perlu ditangani. Karena itu, jangan hanya menghitung berapa lama tidur, tetapi perhatikan juga kualitas tidur, pola makan, aktivitas harian, dan kondisi kesehatan secara menyeluruh.


